Pasar Menanti Review MSCI Agustus 2026, Rupiah Diproyeksi Melemah Besok (12/8)



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Selasa (11/8/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot terkoreksi 0,60% secara harian ke Rp 17.861 per dolar AS. 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,16% secara harian ke Rp 17.824 per dolar AS.  

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, sentimen yang perlu dicermati untuk melihat pergerakan rupiah besok (12/8) meliputi ketegangan geopolitik AS–Iran terkait tuntutan kompensasi pasca serangan militer dan klaim yang bertentangan soal status Selat Hormuz. Hal tersebut turut mendorong harga minyak mentah dunia naik. 


Baca Juga: Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Kenapa IHSG Malah Melemah?

Kemudian, data inflasi AS (CPI Juli rilis Rabu, diperkirakan melambat ke 3,4% yoy, dan PPI sehari setelahnya) yang akan mempengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed. 

“Serta rencana tinjauan MSCI pada 12 Agustus yang berpotensi mempengaruhi arus dana asing,” ujar Sutopo kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).  

Adapun dari domestik, Sutopo menyebut sentimen yang mempengaruhi rupiah besok adalah respon pasar terhadap Indeks Keyakinan Konsumen Juli turun ke 116,8 meski penjualan eceran Juni tumbuh 0,7% secara bulanan. Proses suksesi Gubernur BI juga masih menjadi perhatian pasar terkait kepastian arah kebijakan moneter. 

“Perlu diingat ini proyeksi analis, bukan kepastian, karena kurs sangat sensitif terhadap perkembangan berita terkini,” ucap Sutopo. 

Sutopo memperkirakan untuk perdagangan besok, rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di rentang Rp 17.860 – Rp 17.970 per dolar AS, sehingga tren pelemahan berpotensi berlanjut, bukan berbalik menguat. 

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah dan beberapa mata uang regional umumnya melemah cukup besar terhadap dolar AS pada hari ini. Pelemahan tersebut karena kenaikan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak mentah terjadi di tengah ketidakpastian prospek perdamaian di Timur Tengah. 

“Rupiah juga tertekan oleh data penjualan ritel yang masih mengalami penurunan untuk tiga bulan beruntun,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (11/8/2026). 

Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi kembali melemah besok (12/8), terutama oleh aksi ambil untung setelah penguatan besar pada hari Senin. Investor juga mengantisipasi data inflasi AS yang akan dirilis besok malam. Lukman memproyeksikan rupiah besok bergerak di level Rp 17.750 – Rp 17.900 per dolar AS.

Baca Juga: Kinerja TOTL Positif Semester I 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News