Pasar Minyak Penuh Ketidakpastian, Cek Proyeksi Harga Minyak WTI & Brent



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dinamika pasar minyak mentah dunia berada dalam fase fluktuasi tinggi di tengah tingginya premi risiko geopolitik dan sinyal pemulihan pasokan fisik secara bertahap.

Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah jenis Crude Oil (WTI) melemah 2,02% atau berkurang 2,026 poin ke level US$ 98,274 per barel, sedangkan jenis Brent terkoreksi 1,97% atau turun 2,042 poin ke level US$ 101,828 per barel.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai bahwa pergerakan harga minyak mentah yang berada di atas US$ 100 per barel saat ini masih memuat premi geopolitik di atas estimasi rata-rata lembaga keuangan global.


Baca Juga: Investor Pasar Modal Tembus 31,6 Juta, Generasi Muda Jadi Penopang

Sentimen penggerak pasar bergerak dari dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, pemulihan ekspor minyak Arab Saudi yang melonjak menjadi 4 juta barel per hari dari posisi 2,4 juta barel per hari pada Agustus lalu serta melesunya permintaan global mulai menahan laju kenaikan harga.

Namun di sisi lain, risiko pasokan fisik di lapangan masih tergolong nyata. Lalu lintas kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz sempat menyusut drastis hanya menjadi empat kapal dalam sehari dari rata-rata normal 16 kapal, disertai adanya gangguan operasional pada jaringan pipa utama East-West dan terminal pemuatan Yanbu akibat serangan militer.

“JPMorgan menyatakan tidak memiliki proyeksi dasar yang jelas untuk pertama kalinya sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari. Itu tanda bahwa ketidakpastian sedang sangat tinggi,” ujar Sutopo kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Menghadapi pergerakan harian yang sangat sensitif terhadap pemberitaan, Sutopo mengingatkan para pelaku pasar untuk mengedepankan disiplin eksekusi ketimbang berspekulasi mengejar arah tren.

Investor disarankan menerapkan strategi scale-in atau masuk secara bertahap saat terjadi koreksi, membatasi ukuran posisi portofolio, serta menerapkan batas risiko yang ketat.

Selain itu, investor perlu mencermati implikasi lonjakan harga energi terhadap kenaikan inflasi domestik, beban subsidi energi, hingga potensi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.

“Karena rentangnya lebar, proyeksi ini sebaiknya dibaca sebagai peta risiko yang terus diperbarui mengikuti perkembangan geopolitik,” tutur Sutopo.

Hingga akhir 2026, Sutopo memproyeksikan rentang skenario dasar untuk minyak jenis Brent berada pada kisaran US$ 85,00 hingga US$ 105,00 per barel dan WTI sebesar US$ 80,00 hingga US$ 100,00 per barel.

Apabila kelancaran rute Selat Hormuz pulih total di tengah pelemahan permintaan, skenario negatif berpotensi menekan Brent ke level US$ 70,00 hingga US$ 80,00 per barel dan WTI ke area US$ 66,00 hingga US$ 76,00 per barel.

Sebaliknya, jika gangguan ekspor dan eskalasi konflik berlanjut, skenario positif dapat mengerek Brent bertahan di atas US$ 110,00 per barel dan WTI di atas US$ 105,00 per barel.

Baca Juga: Sentimen Eksternal Tekan Rupiah, Konflik Timur Tengah Jadi Perhatian Pasar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News