KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar modal dalam negeri mengalami peningkatan volatilitas, salah satunya imbas sentimen terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). Terkait hal itu, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) berharap gejolak di pasar modal dapat berlangsung sementara saja. AAJI juga berharap usulan MSCI yang menempatkan Indonesia ke
stand alone market tak terjadi dan tetap di
emerging market. Dalam hal itu, Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo meyakini bahwa pemerintah bersama OJK sudah dan akan mengambil langkah perbaikan.
Albertus mengatakan, AAJI sendiri tentunya sudah memberikan rilis komunikasi kepada anggota dan juga tentunya bisa disampaikan kepada masyarakat agar tidak panik dan tetap tenang.
Baca Juga: Pembiayaan Bank Mega Syariah Tumbuh 11,92%, Segmen Komersial Jadi Penopang "Sebab, asuransi jiwa itu sifatnya bukan jangka pendek, bukan setahun atau dua tahun, melainkan 10-20 tahun ke depan," ungkapnya saat ditemui seusai acara peluncuran Peta Jalan Pengembangan Keuangan Berkelanjutan Sektor PPDP 2026–2030 di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026). Albertus juga mengatakan adanya gejolak pasar modal yang terjadi belakangan ini tak serta-merta langsung membuat asuransi jiwa mengalihkan investasi dari saham ke instrumen lain. Dia bilang, semua kembali ke kebijakan masing-masing asuransi jiwa. Selain itu, asuransi jiwa juga memiliki karakteristik jangka panjang, sehingga bukan mencari
return saja, melainkan perlu disesuaikan juga dengan
aset liability management. "Tidak spesifik seperti itu. Jadi, asuransi jiwa investasinya itu tidak serta-merta hanya untuk mencari
return saja, melainkan juga melihat aset
liability management atau kesesuaian antara
liability dan aset karena jangka panjang. Jadi, harus juga disesuaikan dengan
instrument investasi yang sesuai dengan liabilitas dari setiap perusahaan asuransi jiwa," tuturnya. Jadi, Albertus menerangkan
return bukan satu-satunya kriteria. Namun, dia bilang diversifikasi portofolio sudah pasti dilakukan masing-masing asuransi jiwa untuk menghadapi kondisi saat ini. "Semua perusahaan punya komite investasi yang tentunya sudah punya pengalaman dan pernah mengalami kondisi seperti saat ini," ucapnya.
Baca Juga: Bank BJB Catat Laba Melonjak 37,3% Jadi Rp 1,1 Triliun hingga Kuartal III-2026 Terkait efek gejolak pasar modal ke unitlink, Albertus menyampaikan, kondisi itu bisa dilihat dari dua sisi. Dia bilang kalau kondisinya turun, orang yang optimis ternyata melihat valuasi murah banget, tetap saja ada minat untuk ke saham. "Namun, ada juga yang melihat lebih berisiko, sehingga penempatannya lebih hati-hati biar lihat dahulu ketika kondisi membaik. Jadi, kami lihat selalu ada dua sisi secara unitlink," ujarnya. Albertus menerangkan, pihaknya juga akan melakukan review bersama OJK untuk melihat aturan yang sudah ada. Dia bilang industri bersama konsultan juga akan melihat usulan yang dapat diberikan kepada OJK untuk bisa membuat unitlink menjadi salah satu opsi produk investasi di asuransi yang menarik. Sementara itu, Albertus mengatakan, sejauh ini memang investasi asuransi jiwa mayoritas ditempatkan di instrumen Surat Berharga Negara. Berdasarkan data AAJI, penempatan investasi industri asuransi jiwa di instrumen SBN pada semester I-2026 mencapai Rp 251,64 triliun. Nilainya meningkat 12,8%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. AAJI mencatat, SBN berkontribusi sebesar 44% terhadap total investasi industri yang mencapai Rp 564,42 triliun pada semester I-2026.
Baca Juga: Bank BJB Catat Laba Melonjak 37,3% Jadi Rp 1,1 Triliun hingga Kuartal III-2026 Selain itu, instrumen saham masih menjadi salah satu pilihan utama industri asuransi jiwa. Adapun penempatan investasi asuransi jiwa terbesar kedua berada di instrumen saham dengan nilai Rp 101,56 triliun pada semester I-2026. Nilai penempatan investasi di saham menurun 16,4%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Adapun kontribusinya sebesar 18% terhadap total investasi industri. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News