Pasar Nikel Mulai Seimbang, Tapi Stok Gudang LME dan China Masih Menumpuk



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga nikel mulai naik di awal tahun ini karena pasar menilai produksi besar dari Indonesia yang sempat melonjak dalam beberapa tahun terakhir mulai melambat. Kondisi ini memberi harapan bahwa pasar nikel global bisa kembali seimbang setelah mengalami kelebihan pasokan selama empat tahun berturut-turut.

Meskipun harga menguat, stok nikel di gudang bursa dunia masih sangat besar. Persediaan di gudang London Metal Exchange dan Shanghai Futures Exchange tercatat mencapai sekitar 468.600 ton, level tertinggi sejak 2015. Jumlah ini setara dengan kebutuhan nikel dunia selama sekitar enam minggu.

Meski laju pertumbuhan stok di gudang LME mulai melambat, persediaan di Shanghai justru meningkat semakin cepat. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kelebihan pasokan nikel olahan kini mulai bergeser ke pasar Asia, khususnya China.


Baca Juga: Investor China Mulai Lirik Afrika, Dominasi Nikel Indonesia Terancam Kebijakan Baru

Stok nikel di gudang LME meningkat selama sembilan bulan berturut-turut sejak Juni tahun lalu hingga Maret tahun ini, sebelum mencapai puncaknya di bawah 400.000 ton. Sejak saat itu, stok mulai berkurang sekitar 20.000 ton.

Meski pasokan logam masih terus masuk ke gudang LME, peningkatan penarikan stok menunjukkan adanya permintaan yang lebih kuat dari pasar fisik.

Rantai pasokan nikel di negara-negara Barat juga menghadapi dua gangguan produksi yang tidak terduga.

Pertama, tambang Ambatovy di Madagaskar terpaksa menghentikan operasinya sejak Februari akibat kerusakan yang disebabkan oleh badai siklon. Tambang tersebut memproduksi sekitar 28.000 ton produk nikel jadi pada 2024.

Kedua, kilang nikel Fort Saskatchewan milik Sherritt International di Kanada berisiko kehabisan bahan baku. Hal ini terjadi setelah perusahaan menghentikan keterlibatan langsungnya dalam usaha patungan pertambangan di Kuba menyusul sanksi terbaru Amerika Serikat terhadap negara tersebut.

Tambang-tambang di Kuba selama ini menjadi pemasok utama bahan baku bagi pabrik pengolahan nikel Sherritt di Alberta, Kanada. Perusahaan sebelumnya memperkirakan dapat memproduksi 26.000 hingga 28.000 ton nikel jadi tahun ini, tetapi target tersebut kini menjadi tidak pasti.

Sementara pertumbuhan stok nikel di Barat mulai melambat, persediaan di China justru meningkat tajam.

Stok nikel di bursa Shanghai hampir dua kali lipat sejak awal tahun dan kini mencapai 87.671 ton, tertinggi sejak 2017. Kenaikan ini berlangsung terus-menerus tanpa dipengaruhi faktor musiman.

Selain itu, diperkirakan masih terdapat stok dalam jumlah besar yang disimpan di gudang pemerintah China.

Data perdagangan menunjukkan impor nikel olahan China tetap kuat. Pada 2024, negara tersebut mengimpor sekitar 231.000 ton nikel, tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Di saat yang sama, produsen China juga mengekspor rekor 171.000 ton nikel, sebagian besar ke gudang LME di Asia.

Baca Juga: Kebijakan Baru Ekspor Indonesia Tekan Harga Nikel Global

Menurut analis Macquarie, pemerintah berbagai negara kemungkinan menyerap sekitar 150.000 ton nikel tahun lalu untuk membangun cadangan strategis mineral penting. China diduga menjadi salah satu pembeli utama, meskipun tidak disebutkan secara resmi.

Tren impor China berlanjut pada tahun ini. Selama Januari hingga April, impor nikel olahan meningkat 56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 94.000 ton. Sebaliknya, ekspor turun menjadi hanya 9.400 ton.

Ditambah dengan meningkatnya kapasitas peleburan nikel di China yang menggunakan bahan baku dari Indonesia, tidak mengherankan jika persediaan domestik terus bertambah dan harga nikel di Shanghai bergerak lebih lemah dibandingkan harga di London.

Meski produksi nikel Indonesia diperkirakan menurun tahun ini akibat pembatasan kegiatan pertambangan dan keterbatasan pasokan sulfur untuk proses pengolahan, dampaknya terhadap pasar nikel olahan diperkirakan belum akan terasa dalam waktu dekat.

Karena itu, para analis menilai proses penyeimbangan kembali pasar nikel global kemungkinan akan berlangsung secara bertahap dan memerlukan waktu yang cukup panjang.