Pasar Obligasi Dibayangi Suku Bunga AS, Yield SUN 10 Tahun Diproyeksi 7,05%-7,20%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga obligasi pemerintah Indonesia (Surat Utang Negara/SUN) diperkirakan bervariasi di tengah lonjakan imbal hasil (yield) obligasi AS dan naiknya harga minyak dunia.

Pasar obligasi domestik membukukan pergerakan mixed seiring dengan tekanan dari pasar Surat Utang Negara AS (US Treasury).

Kenaikan yield obligasi secara global terjadi dipicu ketakutan inflasi serta data ketenagakerjaan AS yang solid, yang memperkuat ekspektasi ketatnya kebijakan moneter The Fed.


Ekonom & Analis Fixed Income MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan memproyeksikan imbal hasil SUN tenor 10 tahun bergerak pada rentang 7,05% hingga 7,20% pada perdagangan Jumat (25/9/2026).

"Dengan memperhatikan perkembangan terkini di pasar global maupun domestik, kami memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun bergerak di kisaran 7,05%–7,20% untuk hari ini," kata Ridwan dalam riset, Jumat (25/9/2026).

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Kompak Menguat Sepekan, Arus Dana Institusional Jadi Penopang

Dari pasar global, indeks saham AS ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis. Indeks Dow Jones melemah 0,31%, S&P 500 terdepresiasi tipis 0,02%, sedangkan Nasdaq menguat tipis 0,01%.

Penguatan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong yield obligasi global naik, yang pada gilirannya menekan saham-saham teknologi sensitif terhadap suku bunga.

Di pasar obligasi AS, penjualan berlanjut (sell-off) di sepanjang kurva T-notes. Yield T-notes naik antara 2 hingga 7 basis poin (bps) seiring penguatan harga minyak WTI dan data ekonomi AS yang tetap solid.

Klaim awal pengangguran AS turun menjadi 197.000 pada pekan terakhir, lebih rendah dari konsensus 200.000, menegaskan ketahanan pasar tenaga kerja AS.

Di sisi lain, lemahnya permintaan pada lelang T-notes tenor 7 tahun senilai USD 44 miliar makin menekan pasar Treasuries. Yield US Treasury tenor 2 tahun naik 2 bps ke 4,87%, sementara tenor 10 tahun naik 7 bps ke 5,18%.

Dari Eropa dan Asia, indikator ekonomi menunjukkan perbaikan. PMI Manufaktur S&P Global Inggris naik ke 52,0 di September.

Indeks Iklim Bisnis Ifo Jerman melesat ke 89.9, tertinggi sejak Mei 2023. Meski demikian, yield obligasi pemerintah utama terus menguat, di mana yield JGB Jepang tenor 10 tahun melonjak 9,1 bps ke level 3,08%, tertinggi sejak 1996.

Baca Juga: Ekosistem Kripto Makin Tumbuh, Tokenisasi RWA Buka Peluang Baru

Di dalam negeri, pergerakan yield SUN bervariasi, dengan penyesuaian harga paling tajam terjadi pada tenor 5 tahun yang melonjak 9,8 bps menjadi 6,95%. Sebaliknya, tenor 1 tahun turun 6,4 bps ke 6,59%, sedangkan tenor 10 tahun bertahan stabil di level 7,09%.

Aktivitas perdagangan SUN outright didominasi oleh seri FR0110 dengan nilai transaksi IDR 4,17 triliun, disusul PBS040 sebesar IDR 3,29 triliun, dan FR0109 sebesar IDR 3,04 triliun.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,57% ke level Rp 17.901 per dolar AS, tertekan oleh penguatan indeks DXY ke level 101 serta naiknya harga minyak.

Di sisi makroekonomi, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) Indonesia tercatat tumbuh 8,2% YoY pada Agustus 2026, sedikit melambat dibanding Juli sebesar 8,3% YoY.

Namun, penyaluran kredit tumbuh semakin kuat sebesar 13,3% YoY, mencapai Rp 9.019 triliun, memberikan penopang kuat bagi pergerakan likuiditas.

Ridwan merekomendasikan beberapa seri SUN yang dinilai cukup menarik untuk dicermati pelaku pasar, yaitu seri FR0064, FR0104, FR0091, FR0068, dan FR0111.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News