Pasar obligasi Indonesia dibayangi fluktuasi rupiah dan sentimen negatif eksternal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi Indonesia masih diliputi ketidakpastian di tengah nilai tukar rupiah yang bergerak terlalu volatil dan kuatnya sentimen negatif dari eksternal.

Tekanan di pasar obligasi domestik terbukti sempat meningkat setelah kurs rupiah mengalami tren pelemahan terhadap dollar AS sepanjang pekan lalu. Puncaknya, Selasa (24/5) kemarin kurs rupiah di pasar spot menembus level Rp 14.545 per dollar AS.

Belum cukup, yield US Treasury 10 tahun sempat melonjak tajam sebesar 6 basis poin (bps) dari 2,86 di hari Jumat (20/7) menjadi 2,94% di hari Senin (23/7). Kenaikan ini akibat dampak spekulasi terhadap kebijakan Bank of Japan (BoJ) yang diprediksi bakal mengurangi stimulus moneternya.


Memang, kondisi sudah mulai normal pasca penguatan rupiah ke level Rp 14.475 per dollar AS. Yield US Treasury juga terus bergerak turun hingga ke level 2,93% pada pukul 16.45 WIB, hari ini.

Kendati demikian, Fund Manager Capital Asset Management, Desmon Silitonga mengatakan, sentimen-sentimen seperti itu masih dapat terjadi dalam waktu dekat sehingga pasar obligasi Indonesia belum bisa disebut aman.

Menurutnya, fokus pelaku pasar masih mengarah pada kenaikan suku bunga acuan AS di bulan September dan Desember mendatang. Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mengkhawatirkan konflik perang dagang antara AS dan China yang dapat berlangsung berlarut-larut.

Maka dari itu, berita-berita yang berkaitan dengan kedua sentimen tersebut berpeluang besar akan mempengaruhi pergerakan rupiah dan yield US Treasury. Hasilnya, pasar obligasi Indonesia bisa tertekan dengan catatan rupiah melemah dan yield Surat Utang Negara (SUN) naik mengikuti arah pergerakan yield US Treasury.

Sebagai catatan, yield SUN 10 tahun hari ini berada di level 7,72%. Padahal, Rabu pekan lalu masih berada di level 7,63%.

Desmon pun bilang, yield SUN masih akan mengalami tren volatil seiring kebijakan BI yang akan kembali menaikan suku bunga acuan di semester kedua. “Yield SUN Indonesia masih terbuka untuk naik hingga akhir tahun karena kenaikan suku bunga,” ujarnya, hari ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia