KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi Indonesia dinilai masih memiliki daya tarik di paruh kedua 2026, seiring stabilisasi rupiah dan valuasi imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang semakin kompetitif. Portfolio Manager, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Laras Febriany mencermati, saat ini rupiah mulai menunjukkan stabilisasi. Namun stabilitas ini perlu dilihat dengan hati-hati karena dinamika kebijakan moneter dan risiko eksternal yang masih sangat dinamis. Menurutnya, di pasar obligasi, stabilitas rupiah sangat penting karena menjadi salah satu pertimbangan utama investor asing dalam masuk kembali ke pasar SBN. Jika rupiah dapat bergerak lebih stabil, maka premi risiko dapat menurun dan daya tarik obligasi Indonesia akan kembali meningkat.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,69% ke 6.373 pada Rabu (12/8/2026), CUAN, ISAT, BRPT Top Gainers LQ45 Laras menilai, langkah BI yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% pada Juli 2026 memberikan sinyal bahwa ruang pengetatan moneter mulai terbatas setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga secara agresif. “Sinyal lain yang kami perhatikan adalah stabilisasi imbal hasil SRBI dan penerbitannya yang lebih terkendali, tidak lagi terlalu agresif," ujar Laras dalam riset yang diterima Kontan, Rabu (12/8/2026). Meski demikian, pasar masih akan mencermati kesinambungan kebijakan moneter, terutama terkait pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI). Bagi pasar obligasi, kredibilitas dan konsistensi kebijakan moneter menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor. Laras menambahkan, ruang bagi BI untuk melakukan pengetatan tambahan juga mulai terbatas. Kondisi ini dapat membuat BI menghadapi dilema apabila rupiah kembali mengalami tekanan pelemahan. Di sisi lain, daya tarik obligasi Indonesia saat ini terutama berasal dari valuasi yang relatif semakin kompetitif. Jika dibandingkan dengan negara-negara dengan peringkat kredit setara, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia, termasuk selisihnya dengan imbal hasil US Treasury (UST) tenor yang sama, dinilai Laras masih cukup menarik. Hal tersebut tercermin dari arus dana investor asing yang mulai kembali masuk ke pasar SBN pada Juni-Juli 2026. Ini menunjukkan bahwa pada level imbal hasil saat ini, pasar mulai menilai obligasi Indonesia memiliki kompensasi risiko yang lebih menarik. “Namun kami tetap menekankan bahwa daya tarik valuasi perlu diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang berkesinambungan, karena faktor seperti harga energi, arah kebijakan BI, kondisi fiskal, dan sentimen global masih dapat membebani sentimen investasi,” imbuhnya. Lebih lanjut, memasuki paruh kedua 2026, investor obligasi juga perlu mencermati sejumlah risiko. Salah satunya adalah volatilitas harga minyak yang dapat berdampak terhadap inflasi dan neraca eksternal. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi berpotensi meningkat. Risiko eksternal lainnya berasal dari arah suku bunga global, khususnya apabila The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama dari ekspektasi pasar. Sementara dari sisi domestik, Laras menyebut konsistensi kebijakan, kredibilitas dan independensi BI, disiplin fiskal, serta
outlook sovereign rating sebagai sejumlah faktor yang perlu diperhatikan. Perkembangan review MSCI juga tidak boleh diabaikan. Meski isu tersebut lebih berkaitan dengan pasar saham, dampaknya terhadap sentimen investor asing terhadap Indonesia secara keseluruhan tetap perlu dicermati. "Kita harapkan perpanjangan
interim freeze MSCI hingga November memberi waktu bagi regulator untuk terus melanjutkan pembenahan, dan transformasi pasar modal yang lebih transparan dapat menjadi faktor positif bagi persepsi investor terhadap keseluruhan pasar modal Indonesia," ungkap Laras. Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, MAMI mengedepankan pengelolaan portofolio yang aktif, selektif, dan disiplin terhadap risiko.
Laras juga menekankan pengelolaan portofolio tetap dilakukan secara adaptif, menyesuaikan perkembangan rupiah, arah kebijakan BI dan The Fed, postur fiskal, pergerakan UST, dan minat investor asing. Strategi diversifikasi menjadi kunci penting dalam menjaga tingkat risiko investasi. Dalam hal pengelolaan kelas aset obligasi, strategi investasi difokuskan pada positioning di kurva imbal hasil, pemilihan efek, serta manajemen durasi yang dinamis, guna mengoptimalkan potensi imbal hasil dengan risiko yang terkendali. Dari sisi aset investasi, Laras menyebut investor dapat mencermati reksadana obligasi karena memiliki karakteristik defensif. Reksadana obligasi juga unggul dari segi fleksibilitas dalam melakukan pencairan atau pembelian kapan saja dengan harga unit yang jelas.
Baca Juga: Harga Minyak Kembali Menguat, Brent Berpeluang Tembus US$ 100 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News