KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi mencatatkan penguatan sepanjang Agustus 2026. Namun, memasuki penghujung tahun, investor masih perlu mencermati arah suku bunga global dan sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi pergerakan
yield. Berdasarkan pergerakan INDOBeX Corporate Bond Total Return Index, indeks obligasi korporasi berada di level 522,27 pada akhir Agustus 2026. Level tersebut mencerminkan kenaikan 1,67% secara
month-on-month (MoM) dan 2,16% secara
year to date (YtD). Sementara itu, INDOBeX Government Bond Total Return Index tercatat di level 429,33 pada akhir Agustus 2026. Indeks tersebut naik 2,34% secara MoM, tetapi masih mencatatkan penurunan 0,46% secara YtD.
Baca Juga: Transaksi Kripto di INDODAX Melonjak 16% Jadi Rp 8,7 Triliun pada Agustus 2026 Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto melihat ruang penguatan pasar obligasi masih terbuka hingga akhir tahun. Kondisi tersebut terutama ditopang oleh daya tarik valuasi SBN serta terbatasnya risiko kenaikan suku bunga domestik. "Valuasi SBN masih menarik, dengan
real bond yield yang relatif atraktif dibandingkan negara
emerging markets lainnya. Selain itu, kami melihat BI Rate sudah berada di sekitar level puncaknya, sehingga risiko kenaikan suku bunga lebih lanjut semakin terbatas," ujar Handy kepada Kontan, Selasa (1/9/2026). Daya tarik pasar obligasi juga didukung kondisi pasokan SBN yang dinilai masih terkendali. Handy menyebut defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan tetap di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah juga telah melakukan
front-loading penerbitan SBN dan masih memiliki fleksibilitas pembiayaan non-utang. Kondisi tersebut membuat risiko tambahan pasokan SBN terhadap pasar relatif terbatas. "Kombinasi faktor tersebut membuat
risk-reward SBN masih cukup menarik hingga akhir tahun," kata Handy.
Baca Juga: Bisnis Data Center Berkembang Pesat, Ini Saham yang Berpotensi Kecipratan Sejalan dengan prospek tersebut, Handy memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun pada akhir 2026 berada di kisaran 6,8%-7%. Meski demikian, pergerakan yield tidak akan lepas dari perkembangan pasar global. Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah kenaikan harga minyak yang signifikan maupun lonjakan yield US Treasury apabila The Fed mengambil kebijakan yang lebih agresif dari perkiraan pasar. Menurut Handy, tekanan dari faktor eksternal tersebut dapat merambat ke pasar domestik melalui nilai tukar. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan
risk premium Indonesia dan pada akhirnya membatasi ruang penurunan yield SBN.
Strategi Obligasi
Memasuki sisa tahun 2026, ketidakpastian pasar global membuat pemilihan instrumen menjadi semakin penting. Perubahan arah suku bunga global maupun pergerakan
yield US Treasury dapat membuat volatilitas pasar obligasi kembali meningkat. Dalam kondisi tersebut, Handy menyarankan investor ritel untuk mengutamakan instrumen yang memiliki profil risiko lebih terukur. "Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, investor disarankan untuk tetap defensif dengan fokus pada obligasi pemerintah tenor pendek-menengah. Obligasi/sukuk ritel bisa jadi pilihan," ujar Handy.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Jasa Marga (JSMR) dari Analis Berikut Sementara itu, peluang untuk memperoleh imbal hasil lebih tinggi tetap tersedia di pasar obligasi korporasi. Namun, potensi tambahan yield tersebut perlu diimbangi dengan pemilihan penerbit yang memiliki kondisi fundamental dan kualitas kredit yang memadai. "Alternatif lainnya adalah obligasi korporasi dengan fundamental yang solid dan kualitas kredit yang baik, yang dapat menawarkan tambahan
yield dengan risiko yang tetap terukur," pungkasnya. Dengan strategi tersebut, pasar obligasi masih menawarkan peluang hingga akhir 2026, meski investor perlu mencermati perkembangan global yang dapat mempengaruhi arah
yield dan tingkat risiko pasar domestik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News