KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi pemerintah Indonesia menguat pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Minat beli investor terhadap Surat Utang Negara (SUN) meningkat, terutama pada instrumen bertenor pendek hingga menengah. Kondisi ini tercermin dari penurunan imbal hasil (
yield) SUN di berbagai tenor.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan mengatakan, aktivitas pembelian di pasar SUN masih terkonsentrasi pada instrumen berjangka pendek hingga menengah. Investor cenderung memilih obligasi dengan tenor menengah dalam perdagangan tersebut. "Minat beli di pasar SUN tetap kuat pada perdagangan Kamis (5/11/2026), terutama pada tenor pendek hingga menengah. Permintaan paling besar terlihat pada tenor 5 tahun dan 4 tahun, yang mengindikasikan preferensi investor terhadap instrumen berdurasi menengah," kata Ridwan dalam risetnya, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga: IHSG Dibuka Anjlok ke 4.960 Jumat (6/11), Top Losers LQ45: JPFA, BRPT, HRTA Sejalan dengan peningkatan permintaan tersebut,
yield SUN tenor 5 tahun turun 16,6 basis poin menjadi 7,35%. Sementara itu, yield SUN bertenor 4 tahun terkoreksi 10,6 basis poin menjadi 7,36%. Adapun yield SUN bertenor 10 tahun juga turun 7,1 basis poin menjadi 7,63%. Penurunan yield turut terjadi pada tenor lainnya, dengan mayoritas tenor pendek hingga menengah mencatatkan koreksi sekitar 5 hingga 16 basis poin. Di sisi lain, penguatan harga obligasi lebih terbatas pada tenor panjang sehingga membentuk pola kurva yield bull steepening. Dari sisi nilai transaksi, perdagangan obligasi pemerintah didominasi seri FR0110 dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,51 triliun. Posisi berikutnya ditempati FR0109 sebesar Rp 2,76 triliun dan FR0090 sebesar Rp 2,14 triliun. Sementara itu, berdasarkan frekuensi transaksi, seri PBS030, FR0111, FR0110, FR0102, dan FR0109 menjadi obligasi pemerintah yang paling aktif diperdagangkan. Dari sisi ekonomi domestik, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47% secara tahunan atau
year on year (YoY) pada kuartal III-2026. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar sebesar 5,20% YoY maupun pertumbuhan kuartal II-2026 sebesar 5,29% YoY. Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh kinerja ekspor dan aktivitas manufaktur yang lebih kuat. Sementara itu, konsumsi rumah tangga relatif stabil dengan pertumbuhan 5,04% YoY. Adapun pertumbuhan investasi melambat menjadi 6,06% YoY.
Baca Juga: Laba Emiten Sawit Melonjak 35,7%, TAPG Jadi Saham Pilihan Utama CGS International Meski mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi, Ridwan menyebut permintaan domestik swasta masih belum menunjukkan penguatan yang berarti. Pertumbuhan ekonomi juga masih banyak bergantung pada dukungan belanja pemerintah. "Konsumsi pemerintah tumbuh 8,95% YoY, melambat cukup tajam dibandingkan pertumbuhan 15,97% YoY pada kuartal II-2026. Sementara itu, permintaan swasta belum menunjukkan peningkatan yang signifikan dan pertumbuhan impor yang lebih cepat masih membatasi kontribusi bersih dari permintaan eksternal," ujar Ridwan. Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis. Indeks Nasdaq terkoreksi 5,52%, diikuti S&P 500 yang turun 4,36% dan Dow Jones melemah 3,44%. Tekanan tersebut dipicu aksi jual pada saham teknologi dan semikonduktor di tengah kekhawatiran terhadap valuasi kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI) yang dinilai sudah tinggi. Selain itu, potensi pembatasan regulasi terhadap ekspansi pusat data turut membebani sentimen investor.
Baca Juga: Nikkei Jepang Anjlok 5,5%, Kekhawatiran Bisnis AI Tekan Saham Teknologi Di tengah tekanan pasar saham, obligasi pemerintah AS justru menguat seiring meningkatnya minat investor terhadap aset
safe haven. Yield US Treasury (UST) tenor 2 tahun turun 12 basis poin menjadi 4,46%, sedangkan tenor 10 tahun terkoreksi 6 basis poin menjadi 4,84%. Sementara itu, Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4% pada November 2026. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak Agustus 2023 setelah bank sentral Inggris mempertimbangkan kembali meningkatnya tekanan inflasi.
Dari dalam negeri, rupiah menguat 0,46% ke level Rp 18.082 per dolar AS. Penguatan rupiah turut terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar global, tercermin dari indeks volatilitas VIX yang melonjak 69,7% menjadi 28,18. Menilik perkembangan pasar global dan domestik tersebut, Ridwan memperkirakan yield SUN bertenor 10 tahun akan bergerak pada kisaran 7,55% hingga 7,70% pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Adapun seri obligasi pemerintah yang menarik untuk diperdagangkan meliputi FR0059, FR0064, FR0082, FR0100, dan FR0103. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News