JAKARTA. Menggeliatnya sejumlah industri seperti otomotif, alat berat, elektronik dan permesinan tak urung mengerek permintaan di industri pengecoran logam (foundry), terutama untuk komponen otomotif. Apalagi, pemerintah mulai menggenjot penggunaan produk yang memiliki kandungan lokal atau dalam negeri (TKDN). Ketua Umum Himpunan Ahli Pengecoran Logam Indonesia (HAPLI) Yos Rizal Anwar mengatakan industri pengecoran logam memiliki prospek cukup bagus. "Permintaan industri pengecoran logam akan sejalan dengan pertumbuhan permintaan di sektor otomotif," katanya di Jakarta Kamis (30/9).Ia menambahkan, kebutuhan logam cetakan (casting) untuk industri otomotif sangat tinggi. Sebagai gambaran, untuk membuat satu unit mobil, dibutuhkan baja cetakan sekitar 50 kg - 200 kg baja cetak dan sekitar 60 kg - 100 kg alumunum. Sedangkan untuk satu unit sepeda motor dibutuhkan baja cetakan sekitar 22 kg - 25 kg, dan sekitar 3 kg alumunium.Dalam hitungan Yos Rizal, dengan perkiraan produksi mobil tahun ini sekitar 750.000 unit dan motor sekitar 8 juta unit, maka kebutuhan baja cetakan sekitar 251.000 ton dan alumunium sekitar 84.000 ton. "Ini saja belum termasuk kebutuhan untuk sparepartnya," kata Yos.Saat ini industri pengecoran logam di Indonesia memiliki total kapasitas produksi sekitar 266.860 ton per tahun; terdiri dari industri ferrous sebanyak 31 perusahaan dengan kapasitas produksi sebesar 141.360 ton per tahun, industri alloy steel yang diproduksi oleh 4 perusahaan dengan produsk sebesar 5.000 ton per tahun.Sedangkan jenis non ferroes ada sekitar 14 perusahaan besar dan 20 an industri kecil yang memperoduksi sekita 68.500 ton per tahun. Sedangkan untuk baja recycling ada 3 perusahaan besar dan beberapa UKM yang memiliki kapasitas produksi sebesar 52.000 ton per tahun.Yos bilang, permintaan untuk beja cetakan dan pengeloran logam ini sebenarnya masih akan tinggi ke depan. Hanya saja, ia mengatakan ke depan industri pengecoran logam dan baja cetak harus terus memperbaiki diri dan mengatasi berbagai kendala yang dihadappi. "Selama ini kualitas baja cetakan kita masih rendah dan kurang memenuhi standar internasional," ujarnya.Tingkat penolakan produk (rejection rate) untuk produk baja cetakan untuk industri besar kita masih sekitar 6% - 10%, sedangkan di industri kecil masih sekitar 10% - 15%. "Padahal rata-rata secara internasional tingkat rejection rate itu hanya 3%," jelasnya.Masalah tingkat penolakan yang cukup tinggi ini disebabkan karena peralatan produksi yang sudah tua. "Karenanya, industri ini ke depan perlu ada investasi untuk membeli peralatan baru," jelas Yos.Selain itu, industri baja cetakan ini juga membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih untuk menjadi tenaga kerja di sektor ini.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Pasar otomotif geliatkan industri pengecoran logam
JAKARTA. Menggeliatnya sejumlah industri seperti otomotif, alat berat, elektronik dan permesinan tak urung mengerek permintaan di industri pengecoran logam (foundry), terutama untuk komponen otomotif. Apalagi, pemerintah mulai menggenjot penggunaan produk yang memiliki kandungan lokal atau dalam negeri (TKDN). Ketua Umum Himpunan Ahli Pengecoran Logam Indonesia (HAPLI) Yos Rizal Anwar mengatakan industri pengecoran logam memiliki prospek cukup bagus. "Permintaan industri pengecoran logam akan sejalan dengan pertumbuhan permintaan di sektor otomotif," katanya di Jakarta Kamis (30/9).Ia menambahkan, kebutuhan logam cetakan (casting) untuk industri otomotif sangat tinggi. Sebagai gambaran, untuk membuat satu unit mobil, dibutuhkan baja cetakan sekitar 50 kg - 200 kg baja cetak dan sekitar 60 kg - 100 kg alumunum. Sedangkan untuk satu unit sepeda motor dibutuhkan baja cetakan sekitar 22 kg - 25 kg, dan sekitar 3 kg alumunium.Dalam hitungan Yos Rizal, dengan perkiraan produksi mobil tahun ini sekitar 750.000 unit dan motor sekitar 8 juta unit, maka kebutuhan baja cetakan sekitar 251.000 ton dan alumunium sekitar 84.000 ton. "Ini saja belum termasuk kebutuhan untuk sparepartnya," kata Yos.Saat ini industri pengecoran logam di Indonesia memiliki total kapasitas produksi sekitar 266.860 ton per tahun; terdiri dari industri ferrous sebanyak 31 perusahaan dengan kapasitas produksi sebesar 141.360 ton per tahun, industri alloy steel yang diproduksi oleh 4 perusahaan dengan produsk sebesar 5.000 ton per tahun.Sedangkan jenis non ferroes ada sekitar 14 perusahaan besar dan 20 an industri kecil yang memperoduksi sekita 68.500 ton per tahun. Sedangkan untuk baja recycling ada 3 perusahaan besar dan beberapa UKM yang memiliki kapasitas produksi sebesar 52.000 ton per tahun.Yos bilang, permintaan untuk beja cetakan dan pengeloran logam ini sebenarnya masih akan tinggi ke depan. Hanya saja, ia mengatakan ke depan industri pengecoran logam dan baja cetak harus terus memperbaiki diri dan mengatasi berbagai kendala yang dihadappi. "Selama ini kualitas baja cetakan kita masih rendah dan kurang memenuhi standar internasional," ujarnya.Tingkat penolakan produk (rejection rate) untuk produk baja cetakan untuk industri besar kita masih sekitar 6% - 10%, sedangkan di industri kecil masih sekitar 10% - 15%. "Padahal rata-rata secara internasional tingkat rejection rate itu hanya 3%," jelasnya.Masalah tingkat penolakan yang cukup tinggi ini disebabkan karena peralatan produksi yang sudah tua. "Karenanya, industri ini ke depan perlu ada investasi untuk membeli peralatan baru," jelas Yos.Selain itu, industri baja cetakan ini juga membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih untuk menjadi tenaga kerja di sektor ini.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News