KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri periklanan Indonesia menunjukkan daya tahan di tengah perubahan perilaku konsumen, percepatan digitalisasi, dan ketidakpastian ekonomi global. Pelaku industri kreatif kini tidak hanya mengandalkan kanal digital, tetapi juga mengoptimalkan televisi, bioskop, konten hiburan, dan pengembangan intellectual property (IP). Momentum tersebut dimanfaatkan LINK Group International, independent marketing & media agency network, yang memasuki usia ke-12 dengan memperluas kapasitas dan jangkauan pasar.
Baca Juga: Hypefast Catat Laba Naik 300% di Kuartal I-2026, Cashflow Melonjak Melalui Link Media, perusahaan resmi menjadi agensi eksklusif Cinema XXI untuk seluruh solusi periklanan di jaringan bioskopnya, mencakup iklan on-screen dan off-screen, aktivasi brand, hingga konten khusus. Pendiri LINK Group Irsan Yapto dan Nadya Yapto menilai kemampuan beradaptasi dan keberanian berinovasi menjadi kunci menghadapi ketidakpastian industri. Group Chief Executive Officer (CEO) LINK Group International Irsan Yapto mengatakan perusahaan terus berupaya berkembang dengan berani mengubah strategi bisnis sesuai kebutuhan pasar. “Berbekal keberanian yang kami pegang sejak awal, kami terus berusaha untuk tidak sekadar bertahan, tapi juga berkembang, bahkan ketika itu berarti kami harus berani mentransformasi strategi bisnis kami sendiri,” ujar Irsan, di Jakarta, Rabu (26/8/2026). LINK Group mengawali perjalanan melalui Adlink Sinemedia pada 2014 dengan mengembangkan konsep built-in marketing, yakni mengintegrasikan brand ke dalam alur cerita program televisi, khususnya sinetron. Konsep tersebut berkembang ke media planning dan buying, kreatif, storytelling, komunitas, media internasional, hingga pengembangan bisnis lintas pasar. Salah satu inovasinya adalah Video Chat Message (VCM), yang memungkinkan brand hadir secara natural dalam alur cerita melalui format video call bersama artis. Group Chief Marketing Officer (CMO) LINK Group International Nadya Yapto mengatakan inovasi tersebut lahir dari keberanian keluar dari pola pemasaran konvensional. “Dulu, di era
placement tradisional, kami menyisipkan
brand campaign langsung ke dalam alur cerita entertainment. Banyak yang bilang tidak akan berhasil, dan ternyata berhasil,” kata Nadya. Perluasan bisnis juga terlihat dari portofolio konten internasional. Sejumlah brand Indonesia hadir dalam serial drama Korea seperti Taxi Driver 3, Surely Tomorrow, Phantom Lawyer, hingga Agent Kim Reactivated. Di dalam negeri, kemitraan eksklusif dengan Cinema XXI membuka peluang aktivasi melalui iklan on-screen, off-screen, dan audio branding. Sejumlah brand seperti Beng Beng, Teh Pucuk Harum, dan BYD telah memanfaatkan format tersebut. Selain memperluas kanal periklanan, LINK Group mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif melalui IP komunitas Siaran Pagi DVET di bawah Rumah Intellectual Property Indonesia (RIPIN) melalui Tellink. Komunitas itu kini memiliki lebih dari 75.000 anggota dari berbagai kota besar di Indonesia. Penguatan organisasi dilakukan melalui sejumlah agency network. Netlink memperkuat
media planning dan
buying di bawah Apink Widyasmoko, Sparklink dipimpin Paul Sidharta, sedangkan Tellink membawa fokus storytelling, komunitas, dan IP melalui Iwet Ramadhan. Partha Kabi ditunjuk sebagai Managing Director LINK Group International. “Fokus kami adalah memastikan eksistensi LINK Group terjaga melalui setiap agency network yang kami miliki, dengan menghadirkan leaders yang kredibel dan powerful di industri,” ujar Irsan. Ekspansi turut diarahkan ke pasar regional. LINK Group meluncurkan SilkLink bersama Andy Sun sebagai Partner dan Chief Operating Officer (COO) untuk memperkuat kehadiran di Tiongkok, sementara Vietnam menjadi salah satu fokus pengembangan bisnis di Asia Tenggara. LINK Group saat ini mendukung kampanye sejumlah brand besar, seperti Mayora, GarudaFood, Nutrifood, dan Charoen Pokphand, serta menjalin kemitraan dengan pemain industri hiburan global seperti SBS, Studio Dragon, iQIYI, YG Entertainment, dan HYBE. Ekspansi tersebut mengusung tema LINK to the World, yang menempatkan ekonomi kreatif dan kekuatan ide sebagai bagian dari strategi pertumbuhan. “Bagi kami, LINK to the World bukan hanya soal memperluas jangkauan ke pasar internasional, tapi juga bagaimana ide kreatif bisa memajukan industri kreatif secara luas, memberikan dampak nyata bagi setiap brand yang kami dampingi, dan menciptakan pergerakan ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” kata Nadya. Peluang pertumbuhan didukung prospek pasar periklanan Indonesia. Laporan PwC Global Entertainment & Media Outlook 2026-2030 memproyeksikan pasar periklanan Indonesia meningkat dari US$12,8 miliar pada 2025 menjadi US$18,9 miliar pada 2030.
Sementara itu, profil Campaign Brief Asia Juli 2025 mencatat LINK Group sebagai pemain terbesar kedua di Indonesia dari sisi belanja media televisi, dengan posisi mayoritas dalam segmen built-in advertising di televisi nasional free-to-air. Memasuki usia ke-12, LINK Group melihat tantangan industri sebagai momentum memperkuat inovasi sekaligus memperluas kontribusi terhadap ekonomi kreatif nasional. “Dua belas tahun sejak memulai dari built-in advertising, kami kini beroperasi di lebih banyak kapabilitas dan pasar. Prinsip kami tetap sama yaitu membangun dan berinovasi terlebih dahulu, baru membicarakannya dengan dampaknya,” kata Irsan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News