Pasar Perkantoran Mulai Menyala Berkat Permintaan Ruang dan Perpanjangan Masa Sewa



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagian besar pemilik gedung perkantoran di Jakarta masih menerapkan pendekatan yang penuh kehati-hatian, seiring dengan belum kokohnya pemulihan pasar. Kondisi ini ditemui oleh Colliers dalam keterangan tertulis terbarunya. Konsultan properti ini juga mencatat bahwa kondisi pasar yang masih condong kepada penyewa dan investor terus dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengamankan ruang sewa terutama di gedung berkualitas tinggi, terkelola baik dan menawarkan tarif sewa yang kompetitif. “Pasar perkantoran masih cenderung wait-and-see meskipun permintaan perlahan pulih. Para pengembang masih menganggap Jakarta sebagai pusat bisnis utama di Indonesia,” papar Ferry Salanto, Head of Research Colliers, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga: Pasar Perkantoran Jakarta dan Surabaya Diprediksi Tumbuh Moderat Hingga 2028 Meskipun begitu, aktivitas konstruksi di masa mendatang diperkirakan tetap selektif dan dilakukan secara bertahap, dengan kualitas desain dan memenuhi kebutuhan penyewa menjadi fokus utama. Dia melanjutkan, tingkat permintaan pasar perkantoran di sepanjang 2025 masih didominasi oleh perpanjangan masa sewa. Sebagai tambahan, jumlah perusahaan yang melakukan relokasi juga meningkat dibandingkan 2024. Hal ini diharapkan menjadi sinyal penting semakin meningkatnya kepercayaan korporasi. Ferry menambahkan, aktivitas ekspansi juga menjadi lebih menonjol dibandingkan pengurangan ruang, menandakan pergeseran dari strategi efisiensi ruang pasca-pandemi menuju siklus pertumbuhan yang lebih sehat. Para penyewa secara aktif terus memanfaatkan kondisi pasar untuk mendapatkan harga sewa yang lebih kompetitif, khususnya saat perpanjangan sewa atau pindah ke gedung dengan kualitas yang lebih baik. “Kecenderungan ini secara perlahan memperbaiki kinerja tingkat hunian gedung perkantoran,” imbuhnya.

Baca Juga: Sektor Perumahan dan Perkantoran di Indonesia Dinilai Masih Menjanjikan Di tahun-tahun mendatang, pergerakan tarif sewa perkantoran di Jakarta akan sangat dipengaruhi oleh tingkat keterisian, terutama oleh gedung-gedung berkualitas tinggi dengan lokasi strategis. Gedung premium dan Grade A, termasuk yang berada di luar CBD, seiring dengan proyeksi membaiknya tingkat hunian, berpotensi memberikan kepercayaan kepada pemilik gedung untuk melakukan penyesuaian tarif sewa. Efisiensi biaya tetap menjadi pertimbangan utama bagi para penyewa dalam menetukan gedung perkantoran yang akan dihuni. Penyewa juga mempertimbangkan antara harga sewa dan berbagai insentif yang ditawarkan seperti masa bebas sewa dan dukungan biaya fit-out. “Saat ini, selisih antara penawaran tarif dasar sewa dan yang ditransaksikan umumnya berkisar 10% hingga 30%, tergantung ukuran unit dan posisi negosiasi penyewa,” tutupnya.


Baca Juga: Cushman & Wakefield: Stok Perkantoran CBD Jakarta Tetap 7,4 Juta m² hingga Akhir 2025

Selanjutnya: Ketidakpastian Global, Investor Disarankan Investasi Ini

Menarik Dibaca: Hindari Boros! Money Parenting Lindungi Anak dari Jebakan Utang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News