Pasar Properti Australia Melambat, Pengajuan KPR di NAB Merosot



KONTAN.CO.ID - National Australia Bank (NAB) melaporkan permohonan kredit pemilikan rumah (KPR) di Australia turun 15% pada kuartal yang berakhir Juni 2026.

Di saat yang sama, bank juga mulai melihat tanda-tanda awal meningkatnya tekanan pada portofolio kredit bisnis, terutama di sektor-sektor yang terdampak konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Telegram Digugat Australia, Terancam Denda A$54,6 Juta


Penurunan pengajuan KPR terjadi setelah pemerintah Australia menerapkan reformasi capital gains tax dan negative gearing yang ditujukan untuk meningkatkan pasokan perumahan baru.

Para analis memperkirakan kebijakan tersebut akan semakin mendinginkan pasar properti, yang kini ditandai dengan pelemahan harga rumah di sebagian besar ibu kota negara bagian serta tingkat keberhasilan lelang rumah yang turun ke level terendah sejak pandemi.

Bulan lalu, Westpac, bank terbesar kedua di Australia, juga melaporkan penurunan sekitar 10% pada permohonan kredit perumahan sejak reformasi tersebut diberlakukan.

Meski demikian, di divisi Business and Private Banking (B&PB) milik NAB, saldo kredit perumahan masih tumbuh 2% secara kuartalan, sedangkan penyaluran kredit bisnis meningkat 4%.

Baca Juga: Final Piala Dunia Berujung Kericuhan, FIFA Selidiki Pemain dan Federasi Argentina

Tekanan Mulai Terlihat

NAB, yang merupakan pemberi pinjaman bisnis terbesar di Australia menyatakan, nilai watch loans atau kredit yang masuk dalam pengawasan meningkat 8% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Menurut NAB, kenaikan tersebut mencerminkan dampak aktual maupun potensi risiko dari lingkungan usaha yang semakin menantang.

Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Kamis (30/7), Dolar Taiwan dan Baht Pimpin Pelemahan

David Tuckwell, Chief Investment Officer ETF Shares, mengatakan kenaikan watch loans tidak boleh dianggap sepele karena merupakan indikator awal meningkatnya risiko kredit.

"Watch loans adalah tahapan paling awal dalam spektrum tekanan kredit. Kenaikan 8% dalam satu kuartal menunjukkan para bankir NAB mulai melihat lebih banyak nasabah yang berada dalam tekanan atau berpotensi mengalami tekanan," ujarnya.

NAB menambahkan tekanan kualitas aset paling terlihat pada sektor konstruksi, transportasi, dan pergudangan, yang terdampak gangguan arus perdagangan, kenaikan biaya logistik, serta terganggunya rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah.

Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (non-performing loans/NPL) terhadap total kredit dan akseptasi di divisi B&PB justru membaik menjadi 2,91% pada akhir Juni, dibandingkan 3,00% pada akhir Maret.

Baca Juga: KPMG Australia Bantah Putuskan PHK 1.000 Karyawan usai Skandal Audit

Menurut Tuckwell, perbaikan rasio kredit bermasalah tersebut menunjukkan NAB berhasil menyelesaikan sebagian kredit yang benar-benar bermasalah, sambil secara proaktif memasukkan lebih banyak debitur ke dalam daftar pengawasan.

Di pasar saham, saham NAB memangkas sebagian penguatan awal dan diperdagangkan naik sekitar 0,4%, sementara indeks acuan ASX 200 turun 0,6% pada perdagangan Kamis (30/7).