Pasar Ramen Makin Luas, PHRI: Peluang Ekspansi Masih Terbuka



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis restoran ramen di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan seiring semakin luasnya basis konsumen. Kehadiran brand lokal dengan harga lebih terjangkau turut membuat ramen menjangkau pasar yang lebih luas.

Wakil Ketua Umum Restoran (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) PHRI Susanty Widjaya mengatakan, ramen semakin familiar bagi konsumen Indonesia karena memiliki karakter yang mirip dengan bakmi.

Produk ini juga dapat dikembangkan dalam berbagai rentang harga.


“Pasarnya masih ada dan peluang ekspansi masih terbuka, tetapi tidak semua pemain akan otomatis berhasil. Konsumen akan semakin memperhatikan harga, kualitas dan value yang mereka dapatkan,” ujar Susanty kepada KONTAN, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: Bisnis Ramen di Indonesia Mulai Melandai, Daya Beli Jadi Tantangan

Menurut Susanty, pasar ramen kini tidak hanya diisi restoran yang mempertahankan konsep Jepang autentik. Brand lokal juga mengembangkan ramen dengan menyesuaikan rasa dan harga, dengan karakter konsumen Indonesia.

Kondisi tersebut membuat pasar ramen terbagi ke dalam sejumlah segmen. Ramen autentik menyasar konsumen yang mencari pengalaman kuliner Jepang, sementara ramen dengan harga lebih terjangkau menyasar pasar yang lebih luas.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah usaha penyediaan makanan dan minuman mencapai sekitar 5,28 juta usaha pada 2024, tumbuh 8,7% dari tahun sebelumnya. Nilai penjualan seluruh usaha tersebut mencapai sekitar Rp1.848 triliun.

Namun, PHRI belum memiliki data nasional yang secara khusus mengukur pertumbuhan bisnis ramen. Karena itu, belum dapat dipastikan apakah pertumbuhan ramen lebih tinggi dibandingkan segmen restoran lainnya.

Di tengah peluang tersebut, pelaku usaha masih dapat berekspansi ke kota-kota baru. PHRI menilai pemilihan lokasi dan kemampuan menyesuaikan produk dengan karakter pasar akan semakin penting.

Baca Juga: Haraku Ramen Targetkan Miliki 30 Gerai hingga Akhir 2026

“Pengusaha harus mempunyai positioning yang jelas, memilih lokasi secara lebih selektif, menjaga konsistensi produk, mengendalikan biaya dan terus melakukan inovasi,” kata Susanty.

PHRI melihat prospek bisnis ramen hingga akhir 2026 dan 2027 masih positif. Namun, pertumbuhan akan semakin selektif dan bergantung pada kemampuan pemain membaca kebutuhan konsumen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News