KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aset kripto berhasil memimpin pemulihan imbal hasil di tengah tekanan aksi lepas aset berisiko yang membayangi pasar saham global dan domestik sepanjang September 2026. Berdasarkan data
CoinMarketCap per Kamis (1/10/2026), harga Bitcoin (BTC) berada di level US$ 83.057,93 per koin, sementara Ethereum (ETH) diperdagangkan pada posisi US$ 2.685,44 per koin. Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) terkoreksi tajam 6,96% secara
month on month (MoM), Ethereum justru mencatatkan imbal hasil tertinggi sebesar 8,72% MoM dari posisi US$ 2.470,63 pada Agustus menjadi US$ 2.685,97 pada akhir September.
Baca Juga: Meningkat 24,2%, Transaksi Aset Kripto Capai Rp 28,58 Triliun pada Juni 2026 Mengikuti di posisi kedua, Bitcoin melesat 7,62% MoM dari level US$ 78.074 ke US$ 84.023 per koin, memimpin pemulihan dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya. Analis Reku Andri Fauzan menjelaskan bahwa ketahanan harga kripto di tengah gejolak pasar ekuitas ditopang oleh tingginya permintaan institusional melalui produk
Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin dan Ethereum. Arus dana masuk yang konsisten ke ETF spot serta aksi akumulasi korporasi memberikan fondasi permintaan struktural yang kuat. Selain itu, pelemahan korelasi antara Bitcoin dan indeks saham global seperti S&P 500 turut menjadi pemicu utama. Menurut Andri, Bitcoin kini bergerak lebih independen dengan merespons katalis internal pasar koin digital ketimbang mengekor tekanan
yield obligasi pemerintah AS.
Baca Juga: Inflasi AS Sentuh Level Tertinggi, Pasar Saham dan Kripto Tertekan "Dalam beberapa minggu terakhir, Bitcoin lebih merespons katalis internal seperti
short covering, perbaikan
demand spot, dan narasi likuiditas dari
buyback obligasi Treasury AS, ketimbang mengikuti tekanan
yield tinggi yang membebani pasar ekuitas," ujar Andri kepada Kontan, Kamis (1/10/2026). Faktor lain yang mempercepat pemulihan imbal hasil kripto adalah kalkulasi risiko oleh para pelaku pasar. Sentimen negatif seperti kenaikan suku bunga The Fed dan dinamika regulasi telah diantisipasi lebih awal, sehingga ketika terealisasi, aksi jual justru mereda dan memicu
relief rally.
"Posisi pasar kripto sebelumnya sudah cukup 'bersih' setelah periode koreksi panjang, sehingga respons terhadap perbaikan sentimen menjadi lebih agresif dibanding saham yang valuasinya sudah lebih tinggi," kata Andri.
Baca Juga: Industri Kripto Dorong Fatwa MUI, Ini Kriteria Aset Kripto yang Halal Kombinasi antara adopsi institusional yang kian solid, likuiditas pasar yang lebih bersih, serta karakteristiknya yang menyerupai digital gold membuat aset kripto berpotensi mempertahankan daya tariknya menjelang akhir tahun 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News