Pasar Saham Asia Anjlok, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi Global



KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Pasar saham Asia anjlok tajam pada perdagangan Senin (9/3) seiring lonjakan drastis harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran lonjakan inflasi global. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya hidup serta mendorong kenaikan suku bunga di berbagai negara.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor berbondong-bondong mencari likuiditas dengan beralih ke dolar Amerika Serikat.

Harga minyak mentah melonjak tajam setelah konflik geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. Harga minyak Brent melesat 27% menjadi US$117,58 per barel, mencatat kenaikan harian terbesar setidaknya sejak 1988. Lonjakan ini terjadi setelah harga Brent juga naik 28% pada pekan sebelumnya.


Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (WTI) turut melonjak 28% ke level US$116,51 per barel. Kenaikan harga energi ini diperkirakan akan segera mendorong harga bahan bakar global semakin tinggi.

Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut. Langkah ini menandakan kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran di tengah konflik yang telah berlangsung selama sepekan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Baca Juga: Pemerintah Global Berupaya Redam Dampak Perang Iran dan Lonjakan Harga Minyak

Penunjukan tersebut diperkirakan tidak akan diterima dengan baik oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya menyebut sosok Mojtaba sebagai figur yang “tidak dapat diterima”.

Situasi semakin rumit karena belum ada tanda-tanda meredanya konflik di Timur Tengah. Selain itu, kapal tanker minyak masih enggan melintasi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Kondisi ini membuat investor memperkirakan harga energi tinggi dapat bertahan dalam jangka waktu lama.

Kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, Helima Croft, mengatakan pasar kini menghadapi guncangan pasokan minyak terburuk sejak dekade 1970-an.

“Dengan menghadapi guncangan pasokan minyak terburuk sejak 1970-an, semua mata kini tertuju pada respons Washington,” ujarnya.

Menurut Croft, ketidakjelasan mengenai tujuan akhir konflik membuat sulit memprediksi apakah perang ini akan berlangsung selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan.

“Sejauh ini, baik kebijakan Gedung Putih maupun pernyataan optimistis di media belum mampu meredakan kecemasan pasar terkait terhentinya pengiriman minyak dan penutupan produksi di berbagai wilayah,” tambahnya.

Pasar Saham Asia Tertekan

Lonjakan harga energi memberikan tekanan besar pada pasar saham Asia, terutama bagi negara-negara pengimpor energi.

Indeks saham Jepang Nikkei 225 merosot 7% pada perdagangan Senin, setelah sebelumnya sudah turun 5,5% pada pekan lalu. Jepang merupakan salah satu importir minyak dan gas terbesar di dunia.

Baca Juga: G7 Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Minyak Darurat untuk Redam Lonjakan Harga Energi

Pasar saham Korea Selatan juga mengalami koreksi tajam dengan penurunan 8,2%, setelah sebelumnya telah kehilangan lebih dari 10% dalam sepekan terakhir.

Sementara itu, indeks saham unggulan China CSI 300 Index turun 1,7%. Meski China merupakan importir minyak besar, negara ini memiliki cadangan minyak mentah yang sangat besar sehingga dampaknya relatif lebih terbatas.

Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi di China mulai meningkat bahkan sebelum lonjakan harga minyak terbaru. Indeks harga konsumen China naik 1,3% secara tahunan pada Februari.

Kenaikan inflasi ini tidak sepenuhnya dianggap negatif karena China selama beberapa tahun terakhir justru menghadapi tekanan disinflasi.

Bank Sentral Hadapi Dilema Inflasi

Gelombang aksi jual juga menjalar ke pasar global. Kontrak berjangka indeks saham S&P 500 turun 2%, sementara futures Nasdaq Composite merosot 2,3%.

Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 dan DAX masing-masing turun 3,2%, sedangkan futures FTSE 100 melemah 1,4%.

Di pasar obligasi, kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi mengalahkan status aset aman obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 6 basis poin menjadi 4,204%, dibandingkan level terendah 3,926% pada pekan sebelumnya.

Kondisi ini mempersulit langkah Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter. Investor khawatir lonjakan inflasi akibat harga energi akan menghambat rencana penurunan suku bunga, meskipun data ketenagakerjaan AS sebelumnya mengecewakan.

Baca Juga: Perang Iran Ganggu Pasokan Minyak, Kebijakan Bank Sentral Global Bakal Berbalik Arah?

Data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pada Rabu diperkirakan menunjukkan laju inflasi tahunan tetap di 2,4% pada Februari.

Sementara itu, indikator inflasi inti pilihan The Fed diperkirakan bertahan di level 3%, masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.

Lonjakan inflasi akibat energi juga mendorong pasar memperkirakan langkah berikutnya dari European Central Bank bisa berupa kenaikan suku bunga, bahkan mungkin terjadi secepat Juni.

Untuk Bank of England, pasar kini hanya memperkirakan peluang 40% untuk satu kali lagi pelonggaran kebijakan, jauh lebih rendah dibanding ekspektasi sebelumnya sebelum konflik Timur Tengah meningkat.

Dolar Menguat, Emas Justru Turun

Di pasar valuta asing, investor yang cemas memilih memegang dolar AS dan menghindari mata uang negara-negara pengimpor energi seperti Jepang dan banyak negara Eropa.

Kepala riset makro Asia ex-Japan di Mizuho, Vishnu Varathan, mengatakan kawasan Asia akan menanggung dampak terbesar dari lonjakan harga minyak.

“Asia menghadapi dampak paling berat dari lonjakan tajam harga minyak dan hampir tidak ada tempat untuk berlindung,” katanya.

Nilai tukar dolar AS naik 0,6% terhadap yen Jepang menjadi 158,72 yen. Sementara euro melemah 0,8% ke level US$1,1525.

Dolar Australia yang sering digunakan sebagai lindung nilai saat volatilitas pasar juga turun 0,9% menjadi US$0,6964.

Di sisi lain, harga emas justru turun 1,8% ke level US$5.075 per ons. Para pelaku pasar menduga investor mengambil keuntungan dari kenaikan harga emas sebelumnya untuk menutup kerugian di aset lain.