Pasar Saham Asia Bergejolak Jelang Musim Laporan Keuangan, Harga Minyak Turun



KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (12/10/2026), di tengah kekhawatiran investor terhadap valuasi saham teknologi yang tinggi menjelang musim laporan keuangan perusahaan.

Sementara itu, harga minyak dunia melemah di tengah ketidakpastian pasokan energi dari Rusia.

Konflik di kawasan Teluk masih berlanjut, termasuk serangan terhadap kapal dan bandara.


Baca Juga: Suku Bunga RBI Naik, Aksi Jual Obligasi di India Diperkirakan Berlanjut

Namun, pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai usulan gencatan senjata serangan terhadap fasilitas energi antara Rusia dan Ukraina menambah ketidakpastian prospek pasokan minyak global.

Trump juga mengusulkan agar Rusia meningkatkan ekspor solar atau diesel. Usulan tersebut menuai penolakan dari sejumlah senator Partai Republik maupun Demokrat yang menilai langkah itu berpotensi melanggar hukum.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent sempat dibuka menguat sebelum berbalik turun 1,3% menjadi US$ 103,38 per barel. Harga tersebut berada di bawah level tertinggi baru-baru ini, yakni US$ 109,97 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 1,7% menjadi US$ 90,29 per barel.

Pergerakan bursa saham Asia cenderung melemah. Indeks saham Korea Selatan turun 3,1%, sedangkan saham Taiwan terkoreksi 0,2%. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,4%, sementara indeks saham unggulan China melemah 0,1%.

Baca Juga: Yuan Bertahan Dekati Level Tertinggi 3,5 Tahun Senin (12/10), Dolar AS Masih Perkasa

Di pasar berjangka, kontrak S&P 500 menguat 0,3% dan Nasdaq naik 0,4%. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 Eropa naik 0,5%, DAX menguat 0,6%, dan FTSE bertambah 0,4%.

Aktivitas perdagangan relatif sepi karena pasar Jepang tutup dan pasar AS menghadapi libur parsial. Investor kini bersiap menghadapi musim laporan keuangan kuartal III-2026, yang akan dimulai dengan laporan sejumlah bank besar AS pada Selasa.

Perhatian juga tertuju pada Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC), produsen chip canggih terbesar di dunia.

Perusahaan tersebut diperkirakan membukukan rekor laba untuk kuartal keenam berturut-turut ketika merilis laporan keuangan pada Kamis.

Menurut data LSEG IBES, laba perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan melonjak lebih dari 30% pada kuartal III-2026. Namun, sebagian besar pertumbuhan tersebut diperkirakan berasal dari sektor teknologi.

Ekonom AMP My Bui mengatakan, seluruh kenaikan S&P 500 sejak pertengahan September ditopang oleh saham teknologi.

Di sisi lain, investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk membiayai kebutuhan pendanaan investasi kecerdasan buatan (AI) yang sangat besar.

Baca Juga: IMF: Investasi AI Jaga Pertumbuhan Global di Kisaran 3%, Asia Dapat Manfaat Besar

Tekanan juga terlihat di pasar kredit. Indeks credit default swap (CDS) obligasi korporasi berperingkat investment grade AS, yang mencerminkan biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar, meningkat tajam ke level tertinggi sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai.

Bui menilai, pelebaran spread kredit mengindikasikan investor mulai mempertanyakan kemampuan pendapatan dari bisnis AI untuk mengimbangi kenaikan biaya pinjaman.

Penerbitan obligasi korporasi untuk mendanai belanja modal AI, ditambah pelebaran spread obligasi berimbal hasil tinggi, berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan kembali utang perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.

Data inflasi AS jadi perhatian

Tekanan pendanaan perusahaan turut merembet ke pasar obligasi pemerintah. Imbal hasil US Treasury bahkan mencapai level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan lalu.

Kenaikan imbal hasil ini juga meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor untuk menilai laba perusahaan, sehingga berpotensi menekan valuasi saham.

Pekan ini, pasar akan mencermati serangkaian data ekonomi AS, termasuk inflasi konsumen, inflasi produsen, dan penjualan ritel.

Kenaikan biaya energi diperkirakan mendorong inflasi konsumen AS atau consumer price index (CPI) naik 0,6% secara bulanan, sehingga inflasi tahunan mencapai 3,7%.

Baca Juga: AI Mulai Tekan Permintaan Pekerja Pemula, Ini Peringatan Presiden Singapura

Namun, inflasi inti diperkirakan lebih terkendali, dengan kenaikan 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan.

Kepala Ekonom Global JPMorgan Bruce Kasman mengatakan, harga minyak masih lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Lonjakan biaya pengiriman turut mendorong kenaikan harga produk energi.

Menurut Kasman, sinyal inflasi menunjukkan potensi lonjakan inflasi utama yang dapat menggerus daya beli masyarakat. Sementara itu, penguatan inflasi inti akan membuat bank sentral tetap mencermati risiko kenaikan harga dalam jangka pendek.

Pelaku pasar memperkirakan peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada Oktober hanya sebesar 18%. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 85%.

Investor juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga di Uni Eropa, Jepang, dan Inggris sebelum akhir tahun.

Di pasar valuta asing, euro masih tertekan di level US$ 1,1209 setelah melemah selama lima pekan berturut-turut. Kekhawatiran terhadap defisit anggaran pemerintah di Eropa menjadi salah satu faktor yang membebani mata uang tersebut.

Baca Juga: China Jatuhkan Sanksi kepada Menteri Paraguay dan Belize atas Hubungan dengan Taiwan

Indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam 17 bulan pada posisi 102,17. Namun, penguatan dolar terhadap yen Jepang tertahan di sekitar 158,24 yen per dolar AS, seiring kekhawatiran investor terhadap potensi intervensi pemerintah Jepang.

Sementara itu, harga emas di pasar spot naik tipis 0,1% menjadi US$ 4.198 per ons troi. Logam mulia tersebut sebelumnya berhasil menguat lebih dari 1% sepanjang pekan lalu.