Pasar Saham Bergejolak, Analis: Utamakan Pengelolaan Risiko



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot ke bawa level 5.000. Pada akhir perdagangan Selasa (3/11/2026), indeks anjlok 3,78% ke posisi 4.904,28. Pelemahan tersebut juga diikuti dengan outflow atau arus dana keluar asing sebesar Rp 575 miliar di keseluruhan pasar.

Nah, anjloknya IHSG membuat pelaku pasar, khususnya trader, menghadapi tantangan dalam menentukan strategi. Di tengah tekanan jual yang masih kuat, trader dinilai perlu lebih mengutamakan pengelolaan risiko dibandingkan mengejar keuntungan. 

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto mengatakan dalam kondisi pasar saat ini, prioritas trader sebaiknya bergeser dari mencari keuntungan sebesar-besarnya menjadi menjaga modal dan mengendalikan risiko. Sebab, penurunan IHSG hingga di bawah 5.000 menunjukkan tekanan jual yang masih sangat kuat dan meluas.


Baca Juga: IHSG Tanpa Saham HSC, Valuasi Pasar Makin Menarik?

"Dalam kondisi seperti ini, indikator teknikal maupun valuasi murah belum tentu mampu memberikan sinyal pembalikan harga yang dapat diandalkan," kata Rully kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).

Fundamental Tetap Acuan

Rully menilai, fundamental perusahaan tetap relevan sebagai acuan dalam mengambil keputusan investasi. Namun, investor perlu membedakan antara strategi investasi jangka panjang dengan pergerakan harga saham dalam jangka pendek.

Menurutnya, tekanan jual yang besar dapat membuat harga saham tidak selalu mencerminkan perubahan kondisi fundamental perusahaan. Saham seperti BBCA dan BBRI masih berpotensi mengalami koreksi meskipun memiliki bisnis yang relatif kuat.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan perilaku investor institusi yang ingin mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia. Mereka cenderung melepas saham-saham yang paling likuid dan memiliki bobot besar dalam portofolionya.

"Maka dari itu, istilah exit liquidity dapat menggambarkan kondisi ketika permintaan investor domestik menyerap penjualan asing. Namun, kami tidak melihat hal tersebut sebagai indikasi bahwa saham-saham fundamental sengaja dijadikan instrumen untuk merugikan investor ritel," ujar Rully.

Saham Konglomerasi

Sementara itu, untuk saham-saham konglomerasi, Rully menilai trader perlu mengubah pendekatan secara signifikan. Sebelumnya, sebagian saham konglomerasi mendapatkan perhatian investor karena kenaikan kapitalisasi pasar, kontribusinya terhadap IHSG, serta ekspektasi masuk atau peningkatan bobot dalam indeks.

Baca Juga: Emiten Grup Prodia Hadapi Prospek Berbeda, Simak Katalis dan Risikonya

Namun, setelah saham-saham yang terdampak dikecualikan dari perhitungan IHSG melalui kebijakan HSC, salah satu katalis teknis yang sebelumnya menopang daya tarik saham tersebut menjadi berkurang.

Meski demikian, Rully mengingatkan tidak semua saham konglomerasi memiliki karakteristik yang sama. Beberapa perusahaan memiliki bisnis dan pertumbuhan laba yang cukup baik. Namun, ada pula saham yang kenaikan harganya jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan fundamental perusahaan.

Investor Asing Catat Net Buy

Di tengah kondisi pasar yang lesu saat ini, sejumlah saham seperti ASII, BRIS, GOTO, PGAS, TOWR, ACES, KLBF, INTP dan SMGR justru mencatat net buy asing dalam periode 2-3 November 2026.

Rully bilang net buy asing pada sejumlah saham tersebut sebagai bentuk perkembangan yang menarik, terutama ketika pasar secara keseluruhan masih mengalami tekanan jual.

Ini menunjukkan tidak seluruh investor asing melakukan penjualan secara merata. Sebagian investor mungkin mulai melakukan penyesuaian portofolio atau mencari peluang pada saham yang valuasinya sudah terkoreksi cukup dalam.

 
ASII Chart by TradingView

Namun, Rully akan sangat berhati-hati dalam menginterpretasikan data net buy selama dua hari perdagangan.

Pertama, periode tersebut masih terlalu pendek untuk menyimpulkan adanya perubahan tren arus modal asing.

Kedua, pembelian asing pada saham tertentu dapat mencerminkan rebalancing portofolio setelah perubahan metodologi IHSG, bukan selalu merupakan pembelian berdasarkan prospek fundamental jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News