Pasar Saham Bergejolak, BNP Paribas AM Andalkan Strategi Ini demi Lindungi Investasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana kelolaan alias Nilai Aktiva Bersih (NAB) industri reksadana terkoreksi sepanjang Oktober 2026 akibat gejolak di pasar saham domestik. Manajer investasi (MI) seperti PT BNP Paribas Asset Management (BNP Paribas AM) berusaha menerapkan penyesuaian racikan portofolio secara taktis untuk meredam risiko koreksi nilai investasi.

Per 30 Oktober 2026 dana kelolaan reksadana mencapai Rp 620,14 triliun. Angka tersebut menyusut sebesar 2,66% secara month-on-month (MoM) dibandingkan posisi akhir September 2026. "Kinerja industri pengelolaan investasi juga mengalami penyesuaian moderat di tengah dinamika pasar keuangan. Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksadana per 30 Oktober 2026 tercatat sebesar Rp 620,14 triliun atau termoderasi sebanyak 2,66% month-to-month," ungkap Hasan Fawzi Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK dalam pemaparan RDKB Oktober 2026 OJK, Kamis (5/11/2026).

Baca Juga: OJK Perkuat Mekanisme Pemulihan Kerugian Investor Pasar Modal Penyusutan dana kelolaan industri ini sejalan dengan data Infovesta 90 Index per 30 Oktober 2026. Secara bulanan,Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 16,70% MoM, yang menyeret Indeks Reksadana Saham (IRDSH90) dan Indeks Reksadana Campuran (IRDCP90) terkoreksi masing-masing 10,62% MoM dan 5,83% MoM. Secara year-to-date (YTD), seiring merosotnya IHSG sebesar 41,52%, Indeks Reksadana Saham tergerus 25,31% YTD dan Indeks Reksadana Campuran merosot 12,78% YTD. Sebaliknya, Indeks Reksadana Pasar Uang (IRDPU90) tumbuh positif 0,42% MoM dan 3,59% YTD, membukukan peran sebagai instrumen pelindung (safe haven). Tekanan pasar saham tecermin pada kinerja sejumlah reksa dana berbasis ekuitas milik BNP Paribas AM. Berdasarkan data Infovesta per 30 Oktober 2026, produk BNP Paribas Ekuitas mencatatkan penurunan imbal hasil (return) sebesar 11,40% MoM dan terkoreksi 24,69% YTD. Adapun pada produk berfokus saham kapitalisasi kecil-menengah seperti BNP Paribas Solaris, pencatatan fund fact sheet per 30 September 2026 menunjukkan kinerja bulanan terkoreksi 5,56% MoM dan 8,40% YTD. Direktur Investasi PT BNP Paribas Asset Management, Djumala Sutedja, menjelaskan bahwa reksadana berbasis ekuitas rupiah menjadi salah satu instrumen yang paling terdampak volatilitas pasar. Menurut dia,tekanan tersebut dipicu kombinasi ketidakpastian arah kebijakan dalam negeri, lonjakan harga minyak yang menekan rupiah, serta tingginya imbal hasil obligasi global. "Sentimen pasar semakin tertekan setelah pengumuman MSCI terkait potensi penurunan klasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek arus dana asing dan menaikkan volatilitas pasar saham domestik," ujar Djumala kepada KONTAN, Rabu (4/11/2026). Menghadapi fluktuasi ini, manajer investasi menerapkan langkah taktis dengan mempertahankan porsi kas dan instrumen likuid pada level aman. Berdasarkan fund fact sheet BNP Paribas Ekuitas per 30 September 2026, produk ini mengalokasikan 86,94% dana pada saham, 7,03% deposito, 5,11% instrumen pendapatan tetap, dan kas 0,93%. Sementara pada BNP Paribas Solaris per 30 September 2026, komposisi portofolio ditempatkan pada saham sebesar 84,86%,deposito 12,55%, serta kas 2,59%.


Baca Juga: Dana Kelolaan ETF Emas Capai Rp 110,26 Miliar, Begini Prospek Investasinya Di tengah volatilitas pasar domestik, minat investor terhadap produk berdenominasi Dolar AS (USD) justru menguat sebagai alternatif diversifikasi. Djumala menambahkan, pergerakan nilai tukar rupiah yang berfluktuasi berpotensi menopang nilai investasi berbasis Dolar AS ketika dikonversikan ke Rupiah. "Kami melihat minat yang tetap besar terhadap produk berbasis USD untuk kebutuhan diversifikasi investor.Namun, keputusan investasi harus tetap memperhatikan fundamental aset dan horizon investasi masing-masing investor, tidak hanya didasarkan pada ekspektasi mata uang," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News