Pasar Saham Bergejolak, Prospek Industri Reksadana Bagaimana?



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Reksadana pasar uang dan pendapatan tetap diperkirakan masih menjadi penopang industri reksadana hingga akhir 2026 di tengah gejolak pasar saham. Meski begitu, minat investor terhadap reksadana saham diperkirakan belum surut, terutama untuk investasi jangka panjang.

Head of Equity PT BNP Paribas Asset Management Amica Darmawan mengatakan, tekanan di pasar saham membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Namun, koreksi pasar juga membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham secara bertahap.

“Meskipun sebagian investor memilih menunggu kejelasan arah pasar, valuasi saham Indonesia saat ini sudah berada pada level yang relatif menarik dibandingkan rata-rata historisnya,” ujar Amica kepada Kontan, Selasa (20/10/2026).


Di sisi lain, investor cenderung mencari instrumen dengan volatilitas lebih rendah di tengah ketidakpastian. Reksadana pasar uang masih menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas, sedangkan reksadana pendapatan tetap menarik perhatian seiring imbal hasil obligasi yang relatif menarik.

“Di tengah volatilitas yang cukup tinggi ini, kami melihat pertumbuhan industri reksadana akan lebih banyak ditopang oleh produk pasar uang dan pendapatan tetap,” kata Amica.

Baca Juga: IHSG Melonjak 5,65% ke 5.278, Top Gainers LQ45: BRPT, WIFI, PGEO, Selasa (20/10)

Melansir data Infovesta per 30 September 2026, indeks reksadana saham turun 5,47% secara bulanan, sedangkan indeks reksadana campuran terkoreksi 2,62%. Sementara itu, indeks reksadana pendapatan tetap stagnan, sedangkan indeks reksadana pasar uang tumbuh 0,42%.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada Selasa (20/10/2026), setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam. IHSG ditutup naik 5,65% atau 282,28 poin ke level 5.278,89. Meski demikian, pergerakan tersebut belum menghapus ketidakpastian pasar.

Untuk menghadapi kondisi ini, BNP Paribas Asset Management berfokus pada saham dengan fundamental kuat dan menjaga porsi kas relatif tinggi agar dapat memanfaatkan koreksi pasar.

“Fokus kami tetap pada emiten dengan fundamental kuat, neraca sehat, arus kas solid, dan model bisnis yang resilien. Di tengah volatilitas yang tinggi seperti sekarang, porsi kas dijaga relatif tinggi untuk memberikan fleksibilitas dalam memanfaatkan koreksi pasar,” tutur Amica.

Amica menambahkan, minat terhadap reksadana saham berpeluang kembali meningkat jika prospek pertumbuhan ekonomi, laba perusahaan, dan aliran dana asing membaik. Namun, selama volatilitas masih tinggi, reksadana pasar uang dan pendapatan tetap diperkirakan tetap menopang pertumbuhan industri hingga akhir tahun.

Baca Juga: Rupiah Menguat Selasa (20/10), Capaian Investasi Jadi Penopang Begini Proyeksi Besok

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News