KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak pasar saham domestik sepanjang Oktober 2026 turut membebani kinerja industri reksadana, terutama produk yang memiliki eksposur besar terhadap saham. Di tengah tekanan tersebut, reksadana pasar uang justru mampu mempertahankan kinerja positif dan menjadi instrumen yang relatif lebih tahan terhadap volatilitas pasar. Data Infovesta 90 Index per 30 Oktober 2026 mencatat, secara bulanan atau month-on-month (MoM), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 16,70%. Kondisi ini menyeret Indeks Reksadana Saham dan Indeks Reksadana Campuran masing-masing terkoreksi 10,62% dan 5,83%. Sementara itu, Indeks Reksadana Pendapatan Tetap relatif lebih mampu bertahan dengan penurunan sebesar 0,91% MoM. Adapun Indeks Reksadana Pasar Uang menjadi satu-satunya indeks yang mencatatkan pertumbuhan positif, yakni sebesar 0,42% MoM.
Tekanan terhadap reksadana berbasis saham juga terlihat dari kinerja sepanjang tahun atau year-to-date (YTD) hingga Oktober 2026. Seiring kemerosotan IHSG sebesar 41,52%, Indeks Reksadana Saham dan Campuran masing-masing turun 25,31% dan 12,78%.
Baca Juga: Paragon Karya Perkasa (PKPK) Stock Split 1:10, Ini Alasannya Sebaliknya, Indeks Reksadana Pendapatan Tetap hanya terkoreksi 0,84% YTD. Sementara itu, Indeks Reksadana Pasar Uang masih mampu membukukan pertumbuhan sebesar 3,59% YTD. Kondisi tersebut turut tercermin pada kinerja sejumlah produk reksadana saham. Salah satunya BNP Paribas Ekuitas yang mencatatkan penurunan imbal hasil sebesar 11,40% secara bulanan dan terkoreksi 24,69% sepanjang tahun berjalan. Direktur Investasi PT BNP Paribas Asset Management (BNP Paribas AM), Djumala Sutedja, menjelaskan bahwa reksadana berbasis ekuitas rupiah menjadi salah satu produk yang paling terdampak volatilitas pasar sepanjang Oktober 2026. Menurut dia, tekanan terhadap kinerja investasi dipicu kombinasi faktor domestik dan global. Faktor tersebut antara lain ketidakpastian arah kebijakan dalam negeri, tingginya harga minyak yang memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta imbal hasil atau yield obligasi global yang masih tinggi sehingga mengurangi daya tarik aset berisiko. "Sentimen pasar semakin tertekan setelah pengumuman MSCI terkait potensi penurunan klasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek arus dana asing dan turut mendorong volatilitas pasar saham domestik," kata Djumala kepada KONTAN, Rabu (4/11/2026). Menghadapi fluktuasi harga saham dan kenaikan yield obligasi, manajer investasi menerapkan strategi defensif secara taktis. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertahankan porsi kas dan instrumen likuid pada level yang relatif terjaga, sembari melakukan penyesuaian posisi portofolio secara aktif mengikuti perkembangan pasar. Strategi pengelolaan portofolio tersebut tercermin dalam komposisi fund fact sheet BNP Paribas Ekuitas per 30 September 2026. Produk ini menempatkan 86,94% dana kelolaannya pada instrumen saham, 7,03% pada deposito, 5,11% pada instrumen pendapatan tetap, serta 0,93% dalam bentuk kas.
Baca Juga: Rupiah Gagal Mengikuti Penguatan Mata Uang Asia, Sentimen Domestik Jadi Biang Kerok Di tengah ketidakpastian pasar domestik, minat investor terhadap produk investasi berbasis mata uang asing justru menunjukkan penguatan. Produk berbasis dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu alternatif diversifikasi portofolio untuk menghadapi gejolak pasar hingga akhir 2026 dan memasuki awal 2027. Djumala mengatakan, kebutuhan diversifikasi menjadi salah satu faktor yang mendorong minat investor terhadap produk berbasis dolar AS. Investor kini cenderung lebih selektif dalam menentukan instrumen investasi dengan mempertimbangkan potensi imbal hasil, diversifikasi mata uang, serta kelas aset.
"Kami masih melihat minat yang sangat besar terhadap produk berbasis USD sebagai bagian dari kebutuhan diversifikasi investor. Di tengah kondisi pasar domestik yang volatil, investor cenderung semakin selektif dan mempertimbangkan tidak hanya potensi return, tetapi juga diversifikasi mata uang dan kelas aset," jelas Djumala. Lebih lanjut, Djumala menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan nilai investasi berbasis dolar AS apabila dikonversikan ke dalam rupiah. Meski demikian, investor perlu mempertimbangkan sejumlah aspek sebelum mengambil keputusan investasi hingga akhir tahun. Menurut dia, keputusan investasi tidak seharusnya hanya didasarkan pada ekspektasi pergerakan nilai tukar, tetapi juga perlu memperhatikan fundamental aset yang dipilih dan kesesuaian dengan horizon investasi masing-masing investor. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News