Pasar Saham Dunia Dekati Rekor, Harga Minyak Bertahan di Bawah US$100



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham global bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa pada Jumat (17/4/2026), sekaligus mencatat potensi kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. Optimisme investor didorong oleh harapan bahwa konflik antara Iran dan pihak Barat dapat segera mereda.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik dapat segera tercapai. Trump juga meminta kelompok Hezbollah yang didukung Iran untuk menahan serangan selama gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel berlangsung.

Trump mengatakan pertemuan berikutnya antara negosiator AS dan Iran kemungkinan akan berlangsung akhir pekan ini.


Harapan akan meredanya konflik membuat investor lebih optimistis, meskipun Selat Hormuz—jalur yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia—masih sebagian besar tertutup.

Optimisme tersebut membantu menjaga harga minyak tetap di bawah US$100 per barel, walaupun masih jauh lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang. Harga minyak Brent turun sekitar 1% menjadi US$98,5 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate turun 1,2% menjadi US$89,1 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Turun, Harapan Damai AS-Iran Dongkrak Optimisme Pasar

Di pasar saham, indeks saham dunia MSCI mencetak rekor tertinggi baru pada Kamis dan telah naik 8,5% sepanjang April. Reli ini terjadi meskipun konflik geopolitik masih berlangsung.

Ben Laidler, kepala strategi makro dan ekuitas di Bradesco BBI, mengatakan investor cenderung melihat ke depan dan fokus pada prospek jangka panjang.

Menurutnya, valuasi saham masih cukup menarik dan kinerja laba perusahaan tetap kuat. Namun, agar reli pasar dapat berlanjut, dibutuhkan konfirmasi berupa penurunan lebih lanjut harga minyak serta hasil positif dari laporan keuangan kuartal pertama.

Musim Laporan Keuangan dan Pergerakan Bursa

Awal musim laporan keuangan di AS sejauh ini menunjukkan hasil yang cukup positif. Namun, perhatian investor pada Jumat tertuju pada Netflix yang turun 9,6% dalam perdagangan pra-pasar setelah memproyeksikan laba per saham kuartal kedua di bawah ekspektasi pasar.

Bursa saham Eropa juga bergerak positif tipis. Indeks STOXX 600 naik tipis, sementara kontrak berjangka S&P 500 juga mencatat kenaikan kecil.

Pasar saham Asia sempat melemah pada awal perdagangan, namun tetap membukukan kenaikan mingguan.

Obligasi Masih Tertinggal

Berbeda dengan saham, pasar obligasi pemerintah belum pulih sepenuhnya. Investor kini melihat peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini menjadi lebih kecil dibandingkan sebelum perang.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di level 4,31%, turun dari puncak akhir Maret yang mendekati 4,5%, namun masih lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang yang sekitar 4%.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun berada di 3,03%, sekitar 40 basis poin lebih tinggi dibandingkan akhir Februari.

Andrew Chorlton, CIO fixed income publik di M&G, menilai pasar terlalu cepat mengabaikan risiko konflik dan guncangan energi.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 3%, Prospek Pembicaraan untuk Akhiri Perang Iran Jadi Pemberat

Menurutnya, terdapat perbedaan yang cukup besar antara peringatan para pembuat kebijakan terkait risiko inflasi dan pertumbuhan ekonomi dengan ekspektasi pasar yang masih terlalu optimistis.

Pergerakan Mata Uang dan Emas

Dolar AS yang sempat menguat sebagai aset safe haven pada Maret kini mulai kehilangan momentum. Euro terakhir diperdagangkan di level US$1,1782, mendekati level tertinggi tujuh minggu.

Sementara itu, yen Jepang sedikit melemah ke 159,1 per dolar AS setelah Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda tidak memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Kurangnya sinyal tersebut membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya akhir April.

Di pasar logam mulia, harga emas stabil di level US$4.789 per ons, mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global.