Pasar Saham Global Tertekan, Saat Harga Minyak dan Emas Sama-sama Naik



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pasar saham global mengalami penurunan tajam pada Jumat (27/3/2026), sementara harga minyak melonjak dipicu oleh belum adanya kemajuan dalam mengakhiri konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama empat minggu. Situasi ini mulai menggerus kepercayaan konsumen dan pelaku bisnis di berbagai negara.

Aksi jual di pasar saham global semakin dalam dalam beberapa hari terakhir. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait negosiasi dinilai semakin kurang berpengaruh dibandingkan kondisi di kawasan Teluk, di mana serangan masih berlangsung dan Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia secara efektif terblokade oleh Iran.

Di Wall Street, tiga indeks utama ditutup melemah, dengan saham sektor konsumsi non-primer, keuangan, komunikasi, dan teknologi menjadi pendorong utama penurunan. Para ekonom dan pelaku usaha mulai meyakini bahwa gangguan pasokan minyak dunia akibat konflik ini akan mendorong inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.


Baca Juga: Biaya Energi Naik, India Peringatkan Risiko Pertumbuhan Akibat Konflik Timur Tengah

Indeks saham utama di Amerika Serikat seperti Dow Jones Industrial Average turun 1,73%, S&P 500 melemah 1,67%, dan Nasdaq Composite anjlok 2,15%. Ketiga indeks tersebut mencatatkan penurunan selama lima pekan berturut-turut.

Analis menyebut pernyataan politik semata tidak lagi cukup meredakan kekhawatiran pasar. Presiden Trump memang memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun belum ada sinyal konkret dari pihak Iran untuk bernegosiasi. Garda Revolusi Iran bahkan menegaskan akan terus mengganggu jalur pelayaran di selat tersebut, yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Sementara harga minyak mentah Brent naik 4,22% menjadi US$ 112,57 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 5,4% ke US$ 99,64 per barel.

Para analis menilai penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan memperbesar gangguan pasokan dan meningkatkan ketidakpastian harga energi. Dampaknya mulai terasa pada kenaikan biaya berbagai sektor, mulai dari pangan hingga transportasi, yang kemudian memicu ekspektasi inflasi lebih tinggi dan menekan sentimen konsumen.

Indeks kepercayaan konsumen Amerika Serikat versi Universitas Michigan pun tercatat turun lebih dalam dari perkiraan pada Maret, mencapai titik terendah dalam tiga bulan.

Indeks STOXX 600 di Eropa turun 0,95%, dengan indeks DAX Jerman melemah 1,4% dan FTSE 100 London turun tipis 0,05%.

Di Asia, indeks MSCI untuk saham di luar Jepang turun 0,70%, sementara indeks saham global MSCI melemah 1,35%.

Indeks Dow Jones kini resmi memasuki wilayah koreksi setelah turun lebih dari 10% dari rekor penutupan tertingginya pada 10 Februari. Dow mengikuti Nasdaq dan Russell 2000 yang lebih dulu masuk zona koreksi.

Optimisme yang sebelumnya mendorong Nasdaq ke rekor tertinggi mulai memudar seiring memburuknya kondisi ekonomi makro dan meningkatnya ketidakpastian, termasuk terkait dampak teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap sektor teknologi.

Imbal hasil obligasi pemerintah meningkat karena bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk mengantisipasi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,428%. Pasar kini melihat peluang sekitar 60% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga tahun ini, berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan penurunan suku bunga.

Baca Juga: Pakistan Jadi Mediator AS-Iran, Upayakan Stabilitas Pasokan Energi Global

Imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun juga naik menjadi 3,106%.

Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk euro, yen Jepang, dan franc Swiss. Dolar mencapai level tertinggi terhadap yen sejak Juli 2024.

Indeks dolar AS naik 0,29% menjadi 100,17, mencatat penguatan selama empat sesi berturut-turut.

Sementara itu, harga emas melonjak 2,87% menjadi US$ 4.504,79 per ons troi, mencerminkan meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global.