Pasar Saham Indonesia Kembali Tergoncang, MSCI Buka Risiko Downgrade di November 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke bawah level 5.000 pasca pengumuman MSCI. Pada akhir perdagangan Rabu (24/6/2026), IHSG ditutup melemah 3,56% atau turun 271,45 poin ke level 5.883,88. 

Dalam pengumumannya dirilis Rabu (24/6) dini hari, penyedia indeks global MSCI itu menyatakan akan memperpanjang peninjauan status Indonesia sebagai ekonomi emerging market alias pasar negara berkembang. 

Bahkan, MSCI mungkin akan mempertimbangkan opsi termasuk klasifikasi ulang ke status frontier alias perbatasan, jika kemajuan tidak mencukupi pada peninjauan November mendatang. 


Baca Juga: Regulasi Komisi 8% Bayangi GOTO, Fintech Jadi Andalan Pertumbuhan

MSCI mengisyaratkan kekhawatiran dari investor institusional internasional atas ketidaktransparan yang terus-menerus dalam struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi di Indonesia. 

MSCI menyatakan isu-isu ini berkaitan langsung dengan pilar arus informasi dan infrastruktur pasar  dalam kerangka Aksesibilitas Pasar, dengan para pelaku pasar menyampaikan "kekhawatiran mendalam tentang kelayakan investasi" yang timbul dari isu-isu tersebut.

Meski begitu, MSCI mengakui reformasi transparansi baru-baru ini yang diumumkan oleh regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bursa Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Institutional Business Development MNC Sekuritas Niko Margaronis menjelaskan ini mengindikasikan pembatasan yang berlaku saat ini masih dipertahankan hingga hingga setidaknya tinjauan Agustus dan November mendatang. 

“Artinya, tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke indeks MSCI dan hanya penghapusan saham yang masih dimungkinkan,” kata dia kepada Kontan, Rabu (24/6/2026). 

Niko mengatakan MSCI masih memiliki keraguan terhadap prospek reformasi yang dijalankan. Oleh karena itu, proses peninjauan tetap dibuka dan belum ditutup pada evaluasi Juni 2026. 

“Melihat pemberitaan internasional yang cenderung negatif, persepsi terhadap pasar Indonesia masih berada di bawah tekanan, sebagian karena komunikasi yang dinilai kurang efektif,” jelasnya. 

Ini tercermin dari aksi jual investor asing. Sepanjang perdagangan Rabu (24/6), investor asing mencatatkan net sell Rp 1,17 triliun. Dengan demikian, net sell investor asing mencapai Rp 69,67 sepanjang 2026 berjalan. 

Baca Juga: Maybank Sekuritas Pangkas Target Harga Saham BBRI Efek Tekanan Biaya Dana

Namun secara umum, Niko menyebut pengumuman MSCI ini lebih bersifat netral dan menuju ke arah yang positif. Namun regulator perlu menjaga konsistensi dan berkelanjutan dalam upaya meningkatkan integritas pasar modal Indonesia. 

Head of Research NH Korindo Sekuritas Ezaridho Ibnutama menambahkan meski tidak berarti penurunan status akan terjadi dalam waktu dekat, pernyataan eksplisit terkait penurunan status menunjukkan peningkatan tekanan. 

Dia bilang pasar kini mendapat sinyal persoalan transparansi, kualitas free float, dan praktik perdagangan yang dipertanyakan dapat mengancam posisi Indonesia dalam kelompok pasar berkembang jika tidak ada perbaikan yang signifikan. 

“Saat ini Indonesia masih berstatus emerging market dan belum ada konsultasi formal yang dimulai. Namun, risiko adanya konsultasi tersebut kini telah secara jelas masuk dalam agenda MSCI,” ucapnya. 

Lebih lanjut, Ezaridho menyebut salah satu katalis penting dan positif yang perlu dicermati adalah kemungkinan MSCI mencabut freeze penambahan saham Indonesia ke dalam indeksnya. 

“Jika pembatasan ini dicabut, saham-saham Indonesia yang memenuhi syarat kembali berpeluang masuk ke indeks MSCI. Ini berpotensi membuka passive inflow dan menjadi katalis positif” jelasnya. 

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menyebut pengumuman MSCI ini dapat diinterpretasikan ke arah netral sedikit positif karena sudah diantisipasi oleh investor lokal. 

Baca Juga: Dampak Kenaikan BI Rate: Saham Dibuang, Dana Asing Pindah ke Instrumen Ini

Menurutnya, investor yang fokus pada MSCI diperkirakan masih akan menunggu sampai dengan keputusan di November 2026. Namun dia memproyeksikan probabilitas konsultasi downgrade ke frontier market masih tergolong rendah. 

Dalam catatan Maybank Sekuritas, kondisi pasar saham Indonesia saat ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan awal mula interim freeze dan probabilitas penurunan ke frontier Market diperkenalkan pada akhir Januari 2025. 

Di masa pada saat itu, bobot Indonesia di MSCI masih di atas 1% atau berkisar 1,1%–1,2%, Sementara saat ini, bobot Indonesia hanya tersisa sekitar 0,4% sampai dengan 0,5%. 

Kemudian pada akhir Januari 2025, saham-saham yang masuk dalam daftar high shareholding concentration (HSC) belum di keluarkan MSCI. Kini, saham-saham tersebut sudah dikeluarkan. 

Pada akhir Januari 2025, kapitalisasi pasar BREN mencapai Rp 1.161 triliun dan DSSA sebesar Rp 724 triliun. Namun saat ini, market cap BREN tersisa Rp 494 triliun dan DSSA sebesar Rp 159 triliun. 

Dengan perbedaan kondisi tersebut, Fath memproyeksikan risiko tekanan jual yang mungkin muncul tidak akan semasif bila dibandingkan periode akhir Januari–Mei, kecuali ada informasi lain di luar ekspektasi.   

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News