Pasar Saham Tertekan, Obligasi Korporasi Jadi Alternatif Pendanaan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penerbitan obligasi korporasi dan sukuk masih menjadi alternatif pendanaan bagi perusahaan di tengah kondisi pasar saham yang belum kondusif.

Tekanan terhadap pasar saham membuat sejumlah calon emiten berpotensi menunda initial public offering (IPO) karena khawatir memperoleh valuasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 30 Oktober 2026, terdapat 156 emisi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dari 67 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 157,73 triliun.


Baca Juga: Harga Minyak Melandai Pasca Pemilu AS, Simak Prospek Harga Selanjutnya

Sementara itu, hanya ada tujuh perusahaan yang melantai di bursa melalui IPO hingga 30 Oktober 2026. Itu pun total nilai emisinya jika dihitung-hitung hanya mengumpulkan dana sekitar Rp 2,16 triliun.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan penerbitan obligasi dan sukuk relatif menarik bagi banyak korporasi dalam kondisi pasar saat ini dibandingkan penawaran umum perdana saham atau IPO.

Sebab, pasar saham tengah menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI), pelemahan nilai tukar rupiah, hingga arus keluar dana investor asing.

Kondisi tersebut menekan valuasi saham dan meningkatkan risiko bagi perusahaan yang hendak melantai di bursa. Calon emiten berpotensi memperoleh harga penawaran saham perdana jauh di bawah ekspektasi.

"Dalam kondisi pasar saat ini, penerbitan obligasi dan sukuk memang menjadi alternatif pendanaan yang relatif lebih menarik bagi banyak korporasi, terutama dibandingkan IPO yang menghadapi tantangan cukup besar," ujar Rully kepada Kontan, Rabu (5/11/2026).

Meski demikian, Rully mengingatkan bahwa penerbitan obligasi bukan berarti menawarkan biaya pendanaan yang lebih murah. Tingkat imbal hasil atau yield obligasi yang masih tinggi justru membuat biaya penerbitan surat utang meningkat.

Baca Juga: Surat Utang Korporasi Makin Ramai, Pendanaan Lewat IPO Tertinggal di 2026

Berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), pada 5 November 2026, yield obligasi korporasi tenor tiga tahun dengan rating AAA bahkan sudah berada di level 7,8%.

Ada pun demikian, keuntungan utama bagi korporasi ketika menerbitkan pendanaan lewat surat utang yakni tanpa perlu mendilusi kepemilikan pemegang saham yang ada. Perusahaan juga dapat menyesuaikan tenor dan struktur pembayaran dengan kebutuhan pendanaannya.

Kendati demikian, ia menekankan obligasi tetap menimbulkan kewajiban pembayaran kupon dan pokok utang.

“Dalam kondisi yield tinggi, biaya tersebut dapat menjadi beban yang cukup signifikan terhadap profitabilitas dan arus kas perusahaan,” jelasnya.

Nah, terkait prospeknya ke depan, Rully memperkirakan aktivitas penerbitan obligasi korporasi dan sukuk masih berpotensi berlanjut hingga akhir 2026, terutama didorong oleh kebutuhan refinancing utang yang jatuh tempo.

“Namun, kami memperkirakan penerbitan akan semakin selektif, mengingat tingginya yield obligasi dan kondisi likuiditas domestik yang masih relatif ketat,” lanjutnya.

Pun, tingginya biaya pendanaan, tekanan terhadap rupiah, serta ketidakpastian kondisi pasar keuangan berpotensi membatasi minat korporasi untuk menerbitkan surat utang baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News