JAKARTA. Tahun depan, nilai emisi surat utang negara (SUN) ritel akan menipis. Nilai tersebut bisa kembali menyusut jika pemerintah memangkas kebutuhan penerbitan SUN bruto tahun 2015 pada pengajuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 awal tahun depan. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kemenkeu Robert Pakpahan mengatakan, porsi penerbitan SUN ritel 2015 hanya 9% dari penerbitan SUN gross di APBN-P 2014 sebesar Rp 431 triliun. Ini berarti, tahun depan nilai emisi SUN ritel hanya Rp 38,8 triliun. Nilai itu anjlok 9,56% dibandingkan realisasi penerbitan SUN ritel 2014 yang mencapai Rp 42,9 triliun. Angka tersebut setara 10% penerbitan SUN gross dalam APBN-P 2014. Pencapaian itu berasal dari penerbitan SUN ritel sepanjang 2014 yakni Obligasi Negara Ritel seri ORI011, Sukuk Ritel seri SR006 yang masing-masing bertenor tiga tahun serta saving bond seri SBR001 yang bertenor satu tahun.
Pasar sekunder SUN akan semakin marak
JAKARTA. Tahun depan, nilai emisi surat utang negara (SUN) ritel akan menipis. Nilai tersebut bisa kembali menyusut jika pemerintah memangkas kebutuhan penerbitan SUN bruto tahun 2015 pada pengajuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 awal tahun depan. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kemenkeu Robert Pakpahan mengatakan, porsi penerbitan SUN ritel 2015 hanya 9% dari penerbitan SUN gross di APBN-P 2014 sebesar Rp 431 triliun. Ini berarti, tahun depan nilai emisi SUN ritel hanya Rp 38,8 triliun. Nilai itu anjlok 9,56% dibandingkan realisasi penerbitan SUN ritel 2014 yang mencapai Rp 42,9 triliun. Angka tersebut setara 10% penerbitan SUN gross dalam APBN-P 2014. Pencapaian itu berasal dari penerbitan SUN ritel sepanjang 2014 yakni Obligasi Negara Ritel seri ORI011, Sukuk Ritel seri SR006 yang masing-masing bertenor tiga tahun serta saving bond seri SBR001 yang bertenor satu tahun.