Pasar Seni Global Kembali Bergairah, Penjualan Tembus US$ 59,6 Miliar pada 2025



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pasar seni global kembali menemukan napasnya pada 2025. Setelah beberapa tahun dibayangi kontraksi dan ketidakpastian ekonomi, transaksi karya seni dunia kembali mencatat pertumbuhan, didorong oleh meningkatnya kepercayaan kolektor kelas atas dan pulihnya aktivitas lelang bernilai tinggi.

Laporan Art Basel and UBS Global Art Market Report 2026 menunjukkan total penjualan pasar seni global mencapai sekitar US$ 59,6 miliar pada 2025, naik 4% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh penjualan karya seni bernilai tinggi yang kembali aktif di pasar lelang internasional.

Di balik angka tersebut, sektor dealer masih menjadi penopang utama industri seni global. Penjualan melalui galeri dan dealer mencapai US$ 34,8 miliar, meningkat sekitar 2% secara tahunan. Sementara itu, aktivitas lelang publik mencatat lonjakan lebih tajam. Nilai penjualan di rumah lelang mencapai US$ 20,7 miliar, tumbuh 9% dibandingkan tahun sebelumnya.


Lonjakan itu sebagian besar datang dari transaksi kelas premium. Penjualan karya seni dengan harga di atas US$ 10 juta melonjak sekitar 30%, menandakan kolektor besar kembali aktif berburu karya langka.

“Pasar seni pada 2025 mengalami perubahan arah dari fase kontraksi menuju pertumbuhan moderat,” ujar Clare McAndrew, pendiri Arts Economics sekaligus penulis laporan tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa pasar masih bergerak dalam lingkungan geopolitik yang tidak stabil, terutama terkait perdagangan lintas negara.

Secara geografis, pasar seni global masih terkonsentrasi di tiga negara utama. Amerika Serikat, Inggris, dan China secara kolektif menguasai 76% dari total nilai penjualan seni dunia.

Amerika Serikat tetap menjadi pusat pasar seni global dengan pangsa sekitar 44%, atau setara US$ 26 miliar. Posisi berikutnya ditempati Inggris dengan nilai penjualan US$ 10,5 miliar, sementara China mencatat transaksi sekitar US$ 8,5 miliar.

Meski menghadapi tekanan dari perlambatan sektor properti dan lemahnya kepercayaan konsumen, pasar seni China masih mampu mempertahankan stabilitas. Sementara itu, Prancis menunjukkan lonjakan paling signifikan di Eropa dengan penjualan mencapai US$ 4,5 miliar, naik 9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: Permintaan Lesu, Balai Lelang Seni Top Dunia Restrukturisasi

Seni mahal kembali diminati

Pemulihan pasar seni pada 2025 tidak merata di semua segmen. Pertumbuhan paling kuat justru terjadi pada karya bernilai tinggi.

Rumah lelang global mencatat peningkatan tajam pada transaksi ultra-high-end, yang biasanya melibatkan kolektor kelas dunia dan investor seni. Di sisi lain, penjualan privat melalui rumah lelang justru menurun sekitar 5% menjadi sedikit di bawah US$ 4,2 miliar.

Fenomena ini mencerminkan kembalinya dinamika lelang besar sebagai panggung utama transaksi seni bernilai tinggi.

CEO Art Basel Noah Horowitz menyebut, 2025 sebagai titik balik penting bagi industri seni global. Menurutnya, dealer dan galeri mulai menyempurnakan strategi pemasaran serta memperkuat hubungan dengan kolektor utama.

“Tahun 2025 menandai kembalinya pertumbuhan bagi bisnis seni sekaligus titik perubahan strategis bagi evolusi pasar,” ujarnya.

Selain rumah lelang, pameran seni internasional juga kembali memainkan peran besar dalam mendorong transaksi. Penjualan yang terjadi melalui art fair mencapai 35% dari total omzet dealer, level tertinggi sejak 2022.

Menariknya, pameran seni di luar negeri menjadi sumber penjualan terbesar bagi galeri, menunjukkan bahwa pasar seni tetap sangat bergantung pada mobilitas internasional dan jaringan kolektor global.

Namun, tren berbeda terlihat pada transaksi digital. Penjualan seni secara online turun 11% menjadi US$ 9,2 miliar, level terendah sejak 2019. Penurunan ini terjadi karena transaksi bernilai tinggi kembali dilakukan secara langsung di galeri maupun rumah lelang.

Baca Juga: Investasi Lukisan Berbuah Untung Berlipat di Rumah Lelang

Asia makin berpengaruh

Di tengah perubahan lanskap pasar seni global, kawasan Asia Pasifik semakin memperkuat pengaruhnya. Menurut Adrian Zuercher dari UBS, China tetap menjadi salah satu pasar seni terbesar dunia, sementara Hong Kong mempertahankan peran sentral dalam ekosistem seni Asia.

Selain itu, Singapura juga mulai muncul sebagai pusat regional baru bagi perdagangan seni.

Dengan inflasi global yang mulai mereda dan kondisi ekonomi yang perlahan stabil, pasar seni dunia diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan pada 2026. Sekitar 43% dealer memperkirakan penjualan akan meningkat tahun ini, sementara 38% lainnya memperkirakan pasar akan tetap stabil.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan, serta kecenderungan proteksionisme tetap menjadi tantangan bagi industri yang sangat bergantung pada peredaran karya seni lintas negara ini.

TAG: