Pasar Surat Utang Tertekan, Obligasi Korporasi Lebih Tahan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah turut menekan pasar obligasi korporasi. Meski demikian, pergerakan yield obligasi korporasi dinilai masih lebih terkendali dibandingkan Surat Berharga Negara (SBN).

Asal tahu saja, yield SBN tenor 10 tahun melonjak tajam ke 7,70% pada Rabu kemarin. Posisi ini merupakan yang tertinggi sejak 19 Mei 2020 atau enam tahun lebih. Pada Kamis (29/10) yield SBN sedikit melandai ke 7,64%, meski masih mengalami kenikan 2,3% dalam sepekan dan 7,2% sebulan terakhir.

Naiknya yield SBN kini sudah mulai terasa di pasar obligasi korporasi. Ada pun Pefindo mencatat, pada tenor 10 tahun, yield obligasi korporasi saat ini berkisar antara 8,16% untuk peringkat AAA hingga 12,26% untuk peringkat BBB.


Sementara pada tenor tiga tahun, yield obligasi korporasi berperingkat AAA tercatat sebesar 7,64%, AA sebesar 7,88%, A sebesar 8,63%, dan BBB sebesar 10,75%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan yield SBN tenor yang sama sebesar 7,11%.

Baca Juga: Yield SBN Tembus 7,7%, Daya Tarik Obligasi Korporasi hingga Akhir 2026 Ikut Terancam

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy mengatakan, effective yield indeks obligasi korporasi saat ini berada di kisaran 7,9%. Dicermati Yusuf, penurunan harga obligasi korporasi juga tidak sedalam obligasi pemerintah.

“Artinya, pasar obligasi korporasi ikut terdampak, tetapi belum mengalami tekanan sebesar pasar SBN,” ungkap Yusuf kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).

Meski yield obligasi korporasi sudah merangkak naik, menurut Yusuf, ketahanan pasar obligasi korporasi masih ditopang oleh dominasi investor institusi domestik yang cenderung memegang obligasi hingga jatuh tempo. Selain itu, banyak obligasi diterbitkan oleh emiten berperingkat tinggi dengan arus kas yang kuat.

Likuiditas pasar sekunder yang terbatas juga membuat penyesuaian harga obligasi korporasi berlangsung lebih lambat dibandingkan SBN.

Namun, Yusuf mengingatkan bahwa yield yang terlihat stabil belum tentu mencerminkan risiko yang rendah. Kondisi tersebut juga dapat terjadi karena aktivitas transaksi di pasar sekunder obligasi korporasi tidak terlalu tinggi.

Baca Juga: Penjualan SBR015 Tembus Rp 12,1 Triliun, Ini Rincian Serapan Tiap Tenor

Di tengah kenaikan yield SBN, Yusuf memandang tekanan paling besar berpotensi dirasakan obligasi korporasi berperingkat A dan BBB. Investor cenderung meminta premi kredit lebih tinggi ketika yield obligasi pemerintah meningkat.

“Sementara itu, obligasi AAA relatif lebih tahan karena kualitas kredit dan basis investornya lebih kuat,” lanjut Yusuf.

Dari sisi sektor, Yusuf menilai emiten dengan tingkat utang tinggi, kebutuhan refinancing dalam waktu dekat, arus kas tidak stabil, serta eksposur valuta asing tanpa lindung nilai yang memadai berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.

Risiko tersebut terutama dapat muncul pada perusahaan pembiayaan lapis kedua, sektor properti, konstruksi, serta industri padat modal yang bergantung pada pembiayaan berulang.

Baca Juga: Yield SUN Tembus 7,66%, Pembiayaan Utang Pemerintah Makin Berat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News