Pasar Udang Membaik, Biaya Produksi Masih Bebani Petambak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mencatat adanya peningkatan harga udang pada awal tahun 2026. Meski demikian, pemulihan sektor budidaya udang nasional dinilai belum sepenuhnya terjadi lantaran masih dibayangi tingginya biaya produksi dan tekanan pasar global.

Sekretaris Jenderal Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Niko Amrullah mengatakan, harga udang mengalami kenaikan bertahap pada kuartal I-2026 untuk berbagai ukuran (size).

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga udang sempat mengalami tekanan cukup dalam pada akhir tahun lalu. Kondisi itu membuat sebagian petambak memilih menunda penebaran benur.


Namun demikian, Niko menilai pemulihan harga masih berlangsung fluktuatif di berbagai daerah dan sangat bergantung pada ukuran panen.

"Di beberapa sentra, harga size kecil-menengah memang mulai membaik, tetapi margin petambak belum otomatis pulih karena biaya produksi masih tinggi," ujarnya kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).

Baca Juga: Arab Saudi Kembali Buka Impor Udang dari Indonesia, Ekspor Berpeluang Pulih

Menurut dia, tingginya biaya produksi masih menjadi tantangan utama bagi pembudidaya udang nasional. Pakan disebut masih menyumbang sekitar 50%-70% dari total biaya budidaya.

Selain biaya pakan, petambak juga harus menanggung biaya energi untuk operasional aerator dan pompa, pembelian benur, probiotik, hingga obat-obatan. Akibatnya, ketika harga jual berfluktuasi, petambak kecil dinilai sangat rentan mengalami margin negatif.

Tak hanya persoalan domestik, pasar udang global juga masih menghadapi tekanan harga internasional yang berdampak pada industri dalam negeri.

"Pada awal 2026, terjadi koreksi harga farm-gate di negara produsen utama dunia seperti Ekuador. Ini menunjukkan pasar global masih rentan oversupply dan perlambatan permintaan," kata dia.

KNTI menilai kondisi pembudidaya rakyat di Indonesia saat ini belum dapat dikatakan pulih sepenuhnya. Salah satu faktor yang masih membebani adalah tingginya ketergantungan ekspor udang Indonesia terhadap pasar tertentu.

Niko menyebut sekitar 63,7% ekspor udang Indonesia masih ditujukan ke Amerika Serikat (AS). Karena itu, berbagai hambatan perdagangan di negara tujuan ekspor tersebut langsung memengaruhi harga di tingkat tambak.

Baca Juga: Ekspor Udang ke AS Masih Tertekan meski Akses Kembali Normal Pasca Isu Cs-137

Hambatan yang dimaksud meliputi isu tarif, tuduhan dumping, penolakan residu, hingga perlambatan permintaan di pasar AS.

Selain itu, KNTI juga menyoroti lemahnya akses pembiayaan bagi petambak kecil. Banyak pembudidaya rakyat disebut masih kesulitan memperoleh kredit murah dengan tenor serta masa tenggang pembayaran (grace period) yang sesuai dengan siklus budidaya udang.

Padahal, usaha budidaya udang membutuhkan modal besar dan memiliki tingkat risiko yang tinggi.

"Posisi tawar petambak kecil juga masih rendah. Sebagian besar pembudidaya rakyat masih menjadi price taker karena keterbatasan akses cold chain, storage, kontrak pembelian, dan kelembagaan ekonomi seperti koperasi produsen," imbuh Niko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News