Pasar Valas Wait and See pada Rebu (11/3) di Tengah Perang Iran, Dolar Bertahan



KONTAN.CO.ID - Pergerakan pasar valuta asing global cenderung hati-hati pada perdagangan Rabu (11/3/2026).

Dolar AS masih bertahan kuat karena pelaku pasar memilih menunggu perkembangan terbaru dari perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Pasar global sebelumnya bertaruh konflik tersebut akan segera berakhir. Namun Presiden AS Donald Trump juga berulang kali mengancam akan meningkatkan serangan jika Iran mencoba menghentikan aliran energi melalui Strait of Hormuz.


Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis ke US$5.213,99 Rabu (11/3) Pagi, Pasar Menanti Data Inflasi AS

Sejak perang yang telah berlangsung lebih dari sepekan itu memicu lonjakan harga minyak, dolar sempat menguat tajam sebagai aset safe haven.

Meski begitu, sebagian penguatan dolar mulai terkoreksi karena harapan konflik dapat segera mereda.

Namun sejumlah analis menilai perang kemungkinan tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Kristina Clifton, strategist mata uang senior di Commonwealth Bank of Australia mengatakan, konflik berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan pasar.

“Kami memperkirakan perang dapat berlangsung selama beberapa bulan, bukan hanya beberapa minggu, meskipun tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi,” ujarnya.

Pada Selasa, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara paling intens terhadap Iran sejak perang dimulai.

Baca Juga: Inflasi Grosir Jepang Melandai, Lonjakan Harga Minyak Picu Risiko Tekanan Baru

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran mengancam akan memblokir pengiriman minyak dari kawasan Teluk jika serangan tidak dihentikan.

Situasi yang berkembang cepat di Timur Tengah membuat pelaku pasar kesulitan menilai risiko secara tepat. Akibatnya, banyak trader memilih menahan posisi sambil menunggu kepastian.

Kepala riset di Pepperstone Chris Weston mengatakan, sebagian besar trader masih bersikap wait and see.

“Trader saat ini cenderung menunggu berita terbaru dan kejelasan yang lebih besar agar risiko dapat dihargai secara lebih efisien,” ujarnya.

Di pasar mata uang, euro terakhir diperdagangkan di sekitar US$1,16205, sedikit menguat dari posisi terendah tiga bulan yang dicapai pada Senin. Poundsterling naik 0,12% ke level US$1,34305.

Baca Juga: Survei StanChart: Perusahaan Global Lihat Ruang Besar untuk Pembiayaan Yuan

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama berada di level 98,876, sedikit turun dari puncak tiga bulan yang dicapai awal pekan ini.

Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko juga bertahan dekat level tertinggi hampir empat tahun di sekitar US$0,713.

Penguatan dolar Australia sebagian dipicu pernyataan Wakil Gubernur Reserve Bank of Australia Andrew Hauser yang memperingatkan lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi dan menambah tekanan untuk kenaikan suku bunga pada rapat kebijakan bank sentral pekan depan.

Menurut Clifton dari Commonwealth Bank of Australia, perang di Timur Tengah telah mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.

“Sejak perang dimulai pada akhir Februari, pasar yang sebelumnya memperkirakan pemangkasan suku bunga kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga, atau setidaknya pemangkasan yang lebih kecil,” katanya.

Baca Juga: IEA Usulkan Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar untuk Redam Lonjakan Harga

Di Amerika Serikat, pelaku pasar juga kini memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve sekitar 39,7 basis poin hingga akhir tahun, mencerminkan keraguan apakah bank sentral akan melakukan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

Fokus investor selanjutnya tertuju pada rilis data inflasi AS untuk Februari yang akan diumumkan Rabu.

Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi inti bulanan naik 0,2%, sementara inflasi utama meningkat 0,3%.

Sementara itu, laporan dari The Wall Street Journal menyebut International Energy Agency tengah mengusulkan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah guna meredam lonjakan harga minyak akibat konflik tersebut.