KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Vietnam mencetak tonggak sejarah baru. Senin (21/9/2026), saham-saham Negeri Paman Ho itu resmi masuk ke dalam indeks
emerging market atau pasar berkembang milik FTSE Russell, setelah sebelumnya berstatus
frontier market. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan kenaikan status Vietnam potensi memicu
rebalancing dana asing ke Vietnam, terutama dari fund yang mengikuti indeks FTSE. Potensinya cukup besar karena FTSE memperkirakan inklusi ini dapat menarik hingga US$ 6 miliar secara bertahap.
"Vietnam naik kelas karena ada perbaikan pada aksesibilitas dan infrastruktur pasar, termasuk penghapusan sistem
prefunding bagi investor asing dan perbaikan mekanisme penyelesaian transaksi," kata Alrich kepada Kontan, Senin (21/9/2026). Alrich menegaskan, kenaikan status FTSE tersebut hanya menunjukkan bahwa
market accessibility Vietnam yang membaik, bukan berarti kualitas bursanya otomatis lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Kendati demikian, Alrich mengakui Vietnam saat ini memiliki katalis tambahan dari
index inclusion, sehingga berpotensi mendapat tambahan
passive inflow. "Indonesia lebih membutuhkan perbaikan kepercayaan investor dan konsistensi reformasi pasar untuk menjaga
foreign flow," katanya.
Investor Perlu Waspadai Outflow Soal potensi tekanan
outflow di pasar Indonesia, Alrich menilai risikonya tetap perlu diwaspadai meski pergerakannya tidak selalu linear. Menurutnya, dana asing cenderung melakukan
selective selling dan rotasi, bukan keluar total dari pasar Indonesia. Ia menyebut saham-saham dengan bobot besar dan likuiditas tinggi seperti BBCA, BMRI, dan BBRI relatif lebih sensitif terhadap
rebalancing dana institusi. Namun, saat sentimen pasar membaik, saham-saham tersebut biasanya juga menjadi tujuan utama aliran masuk dana asing. Adapun secara tahun berjalan, total dana asing keluar di pasar saham Indonesia telah mencapai Rp 74,36 triliun. Di sisi lain, Alrich menambahkan, kawasan Asia memang sedang kembali mendapat perhatian investor global, namun aliran dananya bersifat sangat selektif.
Investor cenderung mencari kombinasi antara valuasi menarik, pertumbuhan
earnings, akses pasar, dan katalis struktural. Ia mencontohkan, saat ini Taiwan dan Korea Selatan mendapat dukungan kuat dari tema teknologi dan kecerdasan buatan (AI), sementara Vietnam memperoleh katalis dari reklasifikasi FTSE. "Jadi, kompetisinya bukan sekadar antarnegara, tetapi antar-market yang mampu menawarkan
risk-adjusted return paling menarik," pungkas Alrich. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News