KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dinamika pasar keuangan global dan domestik sepanjang semester I-2026 diwarnai tekanan merata, mulai dari pelemahan pasar saham, fluktuasi rupiah, hingga kenaikan imbal hasil obligasi. Namun, situasi volatilitas tersebut dinilai sebagai siklus investasi wajar yang justru memunculkan peluang penempatan dana pada aset pendapatan tetap secara lebih atraktif di semester II-2026. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memanfaatkan momentum ini dengan menawarkan ORI030 pada 6 Juli–30 Juli 2026 dengan kupon tetap sebesar 6,90% dan 7,00% per tahun sebagai instrumen kompetitif.
Baca Juga: Minat Investor Tinggi, ORI030 Raup Rp 21,9 Triliun dalam Sebelas Hari Dalam skema alokasi aset, obligasi ritel dengan kupon tetap (
fixed rate) ini memegang peran krusial sebagai jangkar utama bagi para investor individu domestik. Kehadiran ORI030 diposisikan untuk mengurangi tingkat volatilitas portofolio sekaligus memberikan kepastian arus kas berkala bagi pemilik modal. Deposit & Wealth Management Head UOB Indonesia, Emillya Soesanto, menegaskan bahwa alokasi aset yang disiplin jauh lebih menentukan keberhasilan investasi jangka panjang dibandingkan dengan menebak momentum pasar atau
market timing. "Kalau melihat apa yang dilakukan regulator, sudah terkoordinasi dengan baik dan respons cepat yakni ketika BI menaikkan suku bunga BI Rate ke 5,75% dan imbal hasil obligasi stabil," terang Emillya di Jakarta, Kamis (16/7/2026). Menurut Emilya, berdasarkan profil risiko investor, porsi instrumen SBN ritel dan obligasi pemerintah berdurasi pendek disarankan untuk mengisi alokasi inti atau
core allocation sebesar 30% bagi tipe agresif, 70% untuk moderat, hingga mencapai 100% penuh bagi tipe konservatif.
Baca Juga: Banyak Peminat, Kuota ORI030 Ditambah Jadi Rp 30 T, Ini Cara Investasi untuk Kupon 7% Perumusan komposisi produk keuangan ini harus selalu diselaraskan dengan horison waktu investasi serta tujuan keuangan masing-masing individu. "ORI030 sangat cocok untuk profil investor konservatif," jelas Emillya. Untuk menghadapi potensi gejolak pasar ke depan, pelaku pasar ritel diimbau untuk konsisten menerapkan kerangka berpikir berbasis
Risk-First Approach. Strategi pertahanan portofolio tersebut mencakup tiga pilar utama bagi kenyamanan investasi, yakni
be prepared,
diversify, serta
be strategic.
Langkah diversifikasi yang terarah dinilai jauh lebih bernilai strategis daripada sekadar berspekulasi mengikuti fluktuasi indeks bursa saham.
Baca Juga: Permintaan Membludak, Penjualan ORI030 Tembus Rp 20,15 Triliun dalam Sepuluh Hari "Saat ini merupakan kesempatan yang bagus untuk menambah portofolio kita karena imbal hasilnya bagus, keamanan terjamin," tutup Emillya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News