Pasarkan LNG, Pertagas incar smelter



BALIKPAPAN. PT Pertagas melalui anak perusahaannya PT Pertagas Niaga terus mencari pasar untuk memasarkan liquified natural gas (LNG) untuk pasar ritel. Selain masuk ke industri dan hotel, Pertagas Niaga pun secara agresif menyasar konsumen di industri tambang.

"Kami menjual LNG untuk mengganti bahan bakar minyak bagi kendaraan operasional perusahaan tambang," ujar Eko Agus Sardjono, Direktur Teknik dan Komersial PT Pertagas Niaga pada Rabu (28/10).

Penjualan (LNG) langsung ini dilakukan Pertagas Niaga guna memenuhi kebutuhan bahan bakar bagi kendaraan-kendaraan alat berat milik PT Cipta Kridatama di Sanga Sanga, Kalimantan Timur. LNG tersebut digunakan Cipta Kridatama untuk mengisi 1 unit Caterpilar 777.


"Pengisian pertama LNG-nya dilakukan Agustus lalu dengan total volume 1 isotank atau setara 400 MMBTU,” lanjut Eko.

Eko bilang, penjualan LNG langsung (LNG to LNG) secara ritel ini sebetulnya telah dimulai oleh salah satu anak perusahaan Pertagas ini sejak 2 tahun lalu. Perusahaan tambang menjadi konsumen pertama yang dibidik untuk bisnis ini.

Sebelumnya, Pertagas Niaga telah memasarkan LNG untuk Indominco tahun 2013 dan Berau Coal di 2014. Dengan total penjualan LNG sebesar 2.050 MMBTU.

Ke depan, pengembangan Pertagas Niaga untuk bisnis LNG sebagai bahan bakar kendaraan tambang tidak akan berhenti sampai di sini. "Ekspansi selanjutnya akan dilakukan di daerah Kalimantan Utara dan Kalimantan Selatan. Juga pengembangan smelter di Sulawesi,” kata Eko.

Eko mengklaim melalui konversi BBM ke LNG untuk kendaraan berat tambang ini diharapkan mampu mengurangi kebutuhan dan pemakaian solar dalam negeri yang berdampak positif terhadap meningkatnya perekonomian Indonesia.

"Potential saving program ini untuk di wilayah Kalimantan saja dapat mencapai hingga USD 770 juta setiap tahunnya," ujar Eko di sela-sela kunjungan ke LNG Filling Station Plant 26, Bontang.

LNG Filling Station Plant 26 merupakan fasilitas pengisian LNG milik PT Pertagas yang berada di lingkungan Plant LNG PT Badak NGL, Bontang. Alokasi LNG-nya sebesar 0,02 standard cargo didapat dari Kontraktor Kontrak KerjaSama (KKKS) Mahakam yakni Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation. Di Plant tersebut LNG dimasukkan dalam truk isotank yang kemudian mengangkut LNG untuk disalurkan ke konsumen. "Kapasitas pengisiannya 1 isotank perhari dan bisa ditingkatkan menjadi 6 isotank perhari," ujar Eko.

Dukungan Pertagas Niaga kepada industri tambang dalam menyediakan LNG bagi kendaraan operasional diakui Yhenda Permana, direktur PT Badak NGL, sebagai suatu terobosan dalam bisnis LNG ritel. "Ini juga menjadi komitmen dan sinergi kami dari Pertamina group dalam menyukseskan program pemerintah terutama konversi energi," ujar Yhenda.

Yendha juga berharap bisnis LNG ritel ini bisa terus dikembangkan. Apalagi ia juga optimis pihaknya mampu memenuhi kebutuhan LNG yang dikenal energi bersih dan terjangkau ini untuk mendukung ekspansi bisnis Pertagas Niaga. "Dari sisi pasokan kami siap," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri