Pasca Halving, Harga Bitcoin Berada di Level US$ 65.079, Simak Prospek ke Selanjutnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peristiwa halving Bitcoin terjadi pada Sabtu (20/4). Namun, harga Bitcoin tidak mengalami kenaikan yang signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya. Harga BTC malah kembali bergerak bearish atau turun. 

Berdasarkan data Coinmarketcap, harga BTC mencapai US$ 70.000 atau setara dengan Rp 1,1 miliar pada Sabtu (20/4). Sedangkan pada hari ini, Minggu (21/4) pukul 14.00 WIB, harga Bitcoin turun berada di level US$ 65.079 atau setara Rp 1,05 miliar. 

CEO Indodax, Oscar Darmawan mengatakan penurunan tersebut salah satunya disebabkan oleh dampak dari konflik geopolitik Iran-Israel yang masih memanas hingga saat ini. Selain itu, dia mengakui bahwa terdapat sedikit perbedaan antara halving kali ini dengan halving-halving sebelumnya.


Menurut dia, halving tahun ini memiliki sedikit keunikan dan perbedaan dari halving-halving sebelumnya. Keunikan tersebut yaitu karena harga Bitcoin telah memasuki siklus bull market dan mencapai all time high (ATH) pada 14 Maret 2024 kemarin, sebelum momentum terjadinya halving, sebesar Rp 1,1 miliar. 

Baca Juga: CEO Indodax Nilai Having Bitcoin 2024 Unik dan Berbeda

“Anehnya di tahun ini, saat halving terjadi harga Bitcoin justru turun. Maka dari itu, Saya sangat penasaran untuk melihat bagaimana perkembangan selanjutnya dan berapa kenaikan dari harga Bitcoin,” kata Oscar, dalam keterangan resminya, Sabtu (20/4). 

Oscar mengatakan, jika dilihat secara historis, market kripto akan memperlihatkan pertumbuhan positif pada enam hingga delapan bulan ke depan setelah halving Bitcoin, dan akan naik menuju all time high baru setelahnya. 

“Namun, perlu diingat juga jika pasca halving akan terjadi penyesuaian harga yang harus diperhatikan oleh para investor dan trader kripto,” ujarnya.

Sementara itu, Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan, dari sudut pandang teknikal, Bitcoin saat ini berada di area resistennya dan berpotensi kembali dalam kondisi bullish. Ditambah, BTC telah mengalami kenaikan selama lebih dari tujuh bulan berturut-turut. 

Baca Juga: Surindro Kalbu Adi Pilih Instrumen Konservatif dan Aman

Fyqieh juga mengatakan bahwa secara teknikal, Bitcoin saat ini berpotensi terus mengalami bullish dalam 1-2 minggu ke depan, karena ada sentimen besar yaitu peristiwa halving Bitcoi ini. 

“Penurunan pada Bitcoin hanya sentimen negatif sementara karena ada perang antara Iran dan Israel,” kata Fyqieh kepada Kontan.co.id, Minggu (21/4). 

Dia menjelaskan, sentimen bearish mulai muncul saat ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel berlangsung, sehingga menjatuhkan harga BTC ke level terendah US$ 61.600 pada pekan lalu. 

Menurutnya, kejadian ini juga memicu aksi jual Bitcoin yang tinggi di tengah arus masuk ke ETF Bitcoin spot AS yang terus mendorong pergerakan harga BTC. 

Baca Juga: Robert Kiyosaki Ungkap 5 Pekerjaan Sampingan yang Dapat Dikerjakan Dimana Saja

“Dengan adanya isu geopolitik ini serta posisi Bitcoin yang berada di resistance, membuat Bitcoin mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir ini, bahkan sempat menyentuh hingga sekitar US$ 58.000,” kata dia. 

Fyqieh pun memprediksi, harga Bitcoin secara jangka pendek bisa menyentuh ke level US$ 67.775. Namun, jika BTC  bergerak di bawah harga US$ 60.000, maka Bitcoin bisa berpotensi turun ke US$ 58.000.

Sedangkan dalam jangka panjang, proyeksi harga Bitcoin masih menunjukkan potensi pertumbuhan menuju rekor tertinggi baru. Harga Bitcoin diproyeksikan bisa mencapai US$ 90.000-US$ 100.000 dalam satu sampai dua tahun ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati