Pasca Pembatasan Ekspor Nikel Mentah, Investasi AS dan China Terus Mengalir



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kebijakan larangan ekspor nikel mentah sejak 2020 mulai membuahkan hasil. Industri smelter nikel di dalam negeri terus kedatangan investor asing.

Kali ini perusahaan otomotif asal Amerika Serikat (AS), Ford Motor Co, dan perusahaan nikel asal China, Zhejiang Huayou Cobalt, sepakat menandatangani perjanjian investasi (Final Investment Agreement) dengan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) untuk membangun proyek smelter nikel senilai US$ 4,5 miliar atau sekitar Rp 67,5 triliun.

Perjanjian investasi yang diteken pada pekan lalu itu akan mengembangkan proyek smelter, dengan menggunakan teknologi high pressure acid leaching (HPAL). Proyek ini berlokasi di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.


Baca Juga: Huawei Rilis Laporan Tahunan 2022: Operasi Stabil, Bisnis Berkelanjutan &Pengembangan

Deputi Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Yuliot mengatakan, kerja sama kedua negara tersebut menjadi nilai tambah dalam pengembangan ekosistem industri nikel, terutama untuk mendukung industri kendaraan listrik.

"Masuknya investasi tersebut juga menunjukkan kebijakan pemerintah dipercaya dan direspons dengan baik oleh dunia usaha, terutama PMA (penanaman modal asing)," tutur Yuliot kepada KONTAN, Minggu (2/4).

Sebab itu, kerja sama ini diyakini akan berdampak positif terhadap realisasi investasi ke depan. Perlu diketahui, investasi China di Indonesia mengalir makin deras belakangan ini. Dari catatan Kementerian Investasi, China menjadi investor terbesar kedua di Indonesia pada 2022. Posisi ini hanya satu peringkat di bawah Singapura.

Nilai investasi pebisnis Negeri Tirai Bambu itu mencapai US$ 5,18 miliar. Angka itu melonjak 63,92% dibanding tahun 2021. Nilai investasi Tiongkok di tahun lalu bahkan menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Sementara nilai investasi AS di RI mencapai US$ 2,1 miliar pada tahun 2022. AS menempati posisi keenam sebagai negara penanam modal terbesar di Indonesia, setelah Singapura, China, Hong Kong, Jepang, dan Malaysia.

Baca Juga: Ekonom Core Sarankan Pemerintah Kawal Kerjasama AS dan China di Proyek Vale

Ekonom Sagara Institute Piter Abdullah juga berharap, kerja sama investasi Ford bakal mendatangkan investasi AS lainnya ke dalam negeri. Sehingga, investasi asal Negeri Paman Sam tersebut bakal tambah besar.

Namun, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mewanti-wanti pemerintah untuk mengawal, agar rencana investasi kedua perusahaan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui komitmen yang lebih jelas.

"Artinya kedua perusahaan ini betul-betul menanamkan modalnya di Indonesia dan kemudian membuka pabrik," tambah Yusuf.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli