KONTAN.CO.ID - SAO PAULO. Pasar keuangan Brasil mulai pulih pada Selasa (27/10/2026) setelah mengalami aksi jual besar-besaran sehari sebelumnya menyusul terpilihnya kembali Presiden Luiz Inacio Lula da Silva. Pemerintah Brasil menilai gejolak tersebut hanya mencerminkan penyesuaian posisi investasi sementara dan menegaskan komitmennya menjaga disiplin fiskal. Nilai tukar real Brasil menguat hampir 2% terhadap dolar AS ke kisaran 5,31 real per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah mata uang tersebut anjlok lebih dari 11% pada sesi perdagangan sebelumnya. Indeks saham utama Brasil, Bovespa, juga naik 1% pada Selasa setelah ditutup merosot 13,9% pada Senin. Sementara itu, kontrak berjangka suku bunga mengalami penurunan.
Baca Juga: Houthi Klaim Serang Kilang Minyak Terbesar Arab Saudi, Pasokan Minyak Bisa Terganggu Menteri Keuangan Brasil Dario Durigan mengatakan gejolak pasar tersebut lebih disebabkan oleh perubahan posisi investor daripada memburuknya fundamental ekonomi negara itu. Menurut Durigan, sejumlah investor sebelumnya telah mengambil posisi yang mengantisipasi kemenangan kandidat presiden dari sayap kanan, Flavio Bolsonaro, dalam pemilihan putaran kedua yang berlangsung pada Minggu. "Reaksi pasar kemarin lebih berkaitan dengan posisi yang telah dibangun pelaku pasar dalam beberapa hari terakhir, bukan karena fundamental ekonomi," kata Durigan kepada wartawan di Brasilia. Ia menilai perdagangan yang lebih stabil pada Selasa menunjukkan bahwa pasar mulai bergerak lebih rasional. Durigan juga mengatakan telah berkomunikasi dengan sejumlah pelaku pasar keuangan untuk merespons perkembangan tersebut. Pemerintah, lanjutnya, tetap berkomitmen menjaga tanggung jawab fiskal atau pengelolaan keuangan negara secara hati-hati. Pasar Brasil mengalami tekanan tajam pada Senin setelah Lula memastikan kemenangan dan memperoleh masa jabatan presiden keempatnya yang tidak berturut-turut. Gejolak tersebut menghapus kenaikan harga aset yang sebelumnya terbentuk selama reli pasar akibat ekspektasi kemenangan Flavio Bolsonaro. Ekspektasi tersebut menguat setelah Bolsonaro unggul atas Lula dalam putaran pertama pemilihan presiden pada 4 Oktober.
Baca Juga: Target Produksi Pesawat Boeing 737 Diproyeksi Tak Akan Tercapai Hingga Awal 2027 Setelah hasil pemilihan ditetapkan, investor kini mencermati kemampuan pemerintahan baru Lula dalam menjalankan penyesuaian fiskal yang kredibel tanpa mengorbankan belanja sosial dan investasi. Pelaku pasar juga menunggu keputusan Lula mengenai penunjukan pejabat-pejabat ekonomi utama. Analis JPMorgan menilai pasar belum memiliki gambaran yang jelas mengenai arah pemerintahan Lula untuk masa jabatan keempatnya, selain koreksi tajam pada harga aset. Meski demikian, mereka memperkirakan investor akan kembali mengevaluasi prospek ekonomi Brasil dalam beberapa pekan mendatang, seiring semakin jelasnya susunan tim ekonomi dan rencana kebijakan pemerintah baru. Dalam catatan kepada klien, analis JPMorgan menyebut pasar saham berpotensi membangun kembali prospek positif setelah gejolak awal mereda. Alfredo Menezes, mitra di perusahaan manajemen aset Armor Capital, menilai penurunan tajam harga saham justru menciptakan peluang bagi investor untuk masuk ke pasar pada harga yang lebih menarik.
Menurutnya, ketika aksi jual otomatis untuk membatasi kerugian atau stop-loss terjadi secara bersamaan, banyak peluang investasi dapat muncul. Menezes menyampaikan melalui platform X bahwa sejumlah saham perusahaan berkualitas yang menjadi perhatiannya telah turun hingga 36%.
Baca Juga: Coca-Cola Naikkan Proyeksi Laba 2026, Andalkan Minuman Bebas Gula Pergerakan pasar Brasil dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan ekonomi pemerintahan Lula, terutama strategi konsolidasi fiskal, keberlanjutan belanja sosial, serta penunjukan pejabat ekonomi. Faktor-faktor tersebut akan menjadi perhatian investor dalam menilai prospek aset Brasil setelah gejolak pascapemilu.