Pasca Rating S&P Stabil, Purbaya Optimistis Arus Modal Masuk dan Rupiah Menguat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil akan mendorong kepercayaan investor dan kembali menarik arus modal mengalir deras (inflow) ke pasar RI dan akhirnya memperkuat rupiah.

Menurut Purbaya, penilaian S&P menjadi bukti bahwa kebijakan fiskal pemerintah selama ini berjalan dalam koridor yang tepat. Ia meyakini, keputusan tersebut akan mengurangi kekhawatiran pasar terkait risiko penurunan peringkat utang Indonesia (downgrade) yang sebelumnya sempat mencuat.

"Ini menunjukkan bahwa fiskal kita amat baik. Asesmen S&P memperlihatkan bahwa pemerintah menjalankan fiskal dengan tepat, prudent, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi," ujar Purbaya saat ditemui di DPR, Selasa (14/7/2026).


Ia menilai, penilaian S&P merupakan pengakuan internasional terhadap kemampuan pemerintah dalam menjaga kesehatan fiskal, di tengah berbagai kekhawatiran pasar mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia.

Purbaya mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir Indonesia sempat menghadapi tekanan sentimen negatif dari pasar karena muncul kekhawatiran terkait potensi penurunan peringkat kredit. Namun, hasil penilaian S&P dinilai menjadi konfirmasi bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat.

Baca Juga: S&P Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5% hingga 2029, Tapi Ada Risiko Kebijakan

"Ini merupakan konfirmasi bahwa kita berjalan di arah yang benar, dengan kebijakan yang baik dan hati-hati," katanya.

Dengan keluarnya hasil penilaian dari S&P, Purbaya memperkirakan sentimen negatif di pasar keuangan, baik pasar saham, obligasi, maupun nilai tukar rupiah, akan mereda, sebagaimana proyeksi S&P bahwa rupiah menguat ke Rp 17.700 per dollar AS. Purbaya bahkan optimistis arus modal asing akan kembali masuk ke Indonesia secara bertahap.

"Investor akan balik ke sini secara bertahap. Kalau yang pintar, masuk cepat. Ini menunjukkan bahwa yang diragukan banyak orang, yaitu kita tidak bisa mengimplementasikan kebijakan fiskal dengan baik, itu salah," ujarnya.

Purbaya juga menyebut penguatan kepercayaan investor dapat memberikan dampak positif terhadap rupiah. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah sebelumnya lebih banyak dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal.

"Sekarang sudah jelas gangguannya apa. Selama ini yang ditakutkan, kita tidak bisa mengelola fiskal," kata Purbaya.

Ia menambahkan, dengan berkurangnya kekhawatiran pasar, rupiah berpeluang bergerak lebih kuat ke depan. Purbaya juga mengajak investor domestik maupun asing untuk melihat kembali peluang investasi di Indonesia.

"Kalau investor pintar, domestik pintar, masuk saja sekarang," ujarnya.

Baca Juga: Purbaya: Rating BBB dari S&P Bukti Kebijakan Ekonomi RI Tetap Kredibel

Lebih lanjut, Purbaya menegaskan pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal dan memperbaiki berbagai sisi yang masih mengalami inefisiensi. Menurutnya, kebijakan fiskal tidak dijalankan secara sembarangan, melainkan melalui evaluasi dan pembahasan secara berkala.

"Kita selalu serius, selalu diskusi, dan selalu menilai ke mana kebijakan fiskal kita. Kelemahannya di mana, diperbaikinya di mana," jelasnya.

Sebelumnya, S&P mempertahankan peringkat kredit utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. Keputusan tersebut mencerminkan keyakinan lembaga pemeringkat terhadap prospek ekonomi dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal di tengah tantangan global.

Purbaya menilai keputusan S&P juga membuktikan bahwa kekhawatiran sejumlah pihak mengenai risiko penurunan rating Indonesia terlalu cepat disimpulkan sebelum melihat perkembangan data ekonomi terbaru.

"Ini yang lebih fair saya pikir," pungkasnya.

Baca Juga: Dampak Rating BBB dari S&P Dinilai Terbatas Ke Rupiah dan Pasar Saham

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News