Pasok Inalum, Bukit Asam siapkan dua tambang



JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyiapkan dua areal tambang untuk kebutuhan batubara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Inalum yang berkapasitas 1.000 megawatt (MW). Kedua areal tambang yang akan dipersiapkan untuk menjamin pasokan listrik di Sumatera Utara tersebut berasal dari izin usaha pertambangan (IUP) di Sumatera Selatan dan Riau.

Joko Pramono, Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, menjelaskan, penggunaan batubara untuk PLTU Inalum tergantung hasil studi kelayakan yang tengah berlangsung. "Tahun depan, setelah studi kelayakan rampung, baru bisa kami pastikan jenis kalori batubara yang akan digunakan, yang sudah siap ada dua tambang," kata dia kepada KONTAN, Jumat (28/11).

Perusahaan plat merah ini memiliki IUP batubara yang tersebar di empat provinsi dengan total luas 90.832 hektare (ha). Perinciannya, Tambang Batubara Tanjung Enim di Sumatera Selatan seluas 66.414 ha, Tambang Batubara Ombilin di Sumatera Barat seluas 2.950 ha, Tambang Batubara Peranap di Riau 18.230 ha, serta di Samarinda Kalimantan Timur seluas 3.238 ha lewat anak usaha PT International Prima Coal.


Seperti kita tahu, Oktober lalu, PT Inalum Asahan Aluminium (Inalum) menggandeng PTBA untuk proyek pembangunan PLTU berkapasitas 1.000 MW untuk mendukung proyek perluasan pabrik aluminium dari kapasitas 265.000 ton per tahun menjadi 500.000 ton pada 2019 mendatang.

Tambang batubara di Sumatera Selatan dan Riau dipilih lantaran masih punya cadangan cukup besar untuk menyuplai kebutuhan PLTU Inalum. Misalnya Bangko Tengah, Sumatera Selatan, punya cadangan 400 juta ton, lantas  di Peranap, Indragiri Hulu Riau ada cadangan 329 juta ton.

Kualitas batubara di Sumatera Selatan tergolong kualitas menengah dengan kandungan kalori sekitar 4.100 kilo kalori per kilogram (kkal/kg) sedangkan di Riau kualitas rendah, yakni di bawah 3.000 kkal/kg. "Sehingga, kalau PLTU Inalum menggunakan kualitas rendah akan dipasok dari Riau dengan volume sebanyak 5,5 juta ton per tahun, sedangkan kalau kualitas sedang akan didatangkan dari Sumatera Selatan sebanyak 4 juta ton per tahun," ujar dia.

Proyek di Kuala Tanjung

Mengingat pembangkit setrum tersebut dibutuhkan paling lambat 2019, PTBA memproyeksikan, hasil kajian studi kelayakan rampung  tahun depan. Sedangkan tahapan konstruksi terpadu alias engineering, procurement, and construction (EPC) dimulai 2016 mendatang.  

Total investasi proyek PLTU Inalum baru bisa dipastikan setelah kajian studi kelayakan rampung. Inalum sudah menyiapkan pembangkit ini di areal seluas 80 ha di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.

Sekarang, Bukit Asam sedang menggenjot penyelesaian pembangunan sejumlah pembangkit. Yang paling dekat, perusahaan tersebut akan mengoperasikan PLTU Banjarsari di Lahat, Sumatera Selatan, dengan kapasitas 2x110 MW lewat anak usaha perusahaan yaitu PT Bukit Pembangkit Innovative.

Pembangkit listrik ini perlu pasokan batubara sekitar 1 juta ton hingga 1,5 juta ton per tahun yang akan didatangkan dari tambang batubara wilayah setempat. "Awal 2015, sudah siap kami operasikan," kata Joko.  

Selain itu, PTBA juga sedang menggelar proyek PLTU Peranap Riau dengan kapasitas 2x600 MW yang direncanakan beroperasi 2019. Pembangkit listrik yang nantinya sebagian setrumnya akan diekspor ke Malaysia ini akan butuh pasokan batubara sebanyak 8,4 juta ton.

Selain itu, PTBA juga tengah menggarap PLTU Sumsel-8 berkapasitas 2x620 MW. Proyek yang digarap oleh anak usaha PT Huadian Bukit Asam Power ini direncanakan bisa beroperasi 2018 mendatang dengan proyeksi kebutuhan batubara mencapai 5,4 juta ton. "Kami juga sedang mengikuti tender pembangunan PLTU Sumsel-9 dan PLTU Sumsel-10," ujar dia.                 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan