KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena El Nino yang berlangsung berkepanjangan berpotensi menekan ketersediaan air baku bagi perusahaan air minum, terutama ketika debit sungai dan sumber air mengalami penurunan. Namun, kondisi pasokan air baku di wilayah Jabodetabek saat ini dinilai masih relatif terkendali. Direktur Eksekutif Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) Teguh Subekti mengatakan, hujan yang terjadi di wilayah Bogor dalam beberapa hari terakhir menjadi faktor yang membantu menjaga debit sejumlah sungai yang menjadi sumber air baku di Jabodetabek. “Untuk wilayah Jakarta, sekitar 92% pasokan air baku berasal dari Jatiluhur melalui Kalimalang. Sementara sekitar 8% lainnya berasal dari sejumlah sumber seperti Sungai Cisadane, Pesanggrahan dan Ciliwung,” ujar Teguh kepada KONTAN, Senin (21/9). Baca Juga: Pengelolaan Ekosistem Papua Terkendala Kondisi Alam dan Ketersediaan Data Teguh mengatakan, secara umum kondisi pasokan air baku di Jabodetabek masih relatif terkendali. Meski demikian, terdapat sejumlah wilayah yang mulai mengalami penurunan debit air. “Kalau saya lihat, relatif terkendali dan belum signifikan di Jabodetabek. Untuk Tangerang, Cisadane relatif aman. Tetapi setelah Bendung 10, termasuk Karang Tengah dan sekitarnya, debitnya memang sudah berkurang sehingga pasokannya bisa lebih rendah,” katanya. Menurut Teguh, hujan yang kembali terjadi di Bogor berpotensi meningkatkan debit Sungai Cisadane, Ciliwung dan Pesanggrahan sehingga dapat membantu menjaga ketersediaan air baku di sejumlah wilayah. Ia mencontohkan, dampak El Nino terhadap pelayanan air minum pernah terjadi di sejumlah daerah. Di Kota Makassar pada 2023, sekitar 700 liter per detik pasokan sempat terganggu akibat keterbatasan debit sungai yang kemudian memicu intrusi air laut sehingga proses pengolahan air tidak dapat beroperasi secara normal. Karena risiko kekeringan dapat berulang, Teguh menilai perusahaan air minum perlu menyiapkan langkah mitigasi sejak awal. PERPAMSI sebelumnya juga telah menggelar webinar mengenai mitigasi risiko kekeringan dengan menghadirkan sejumlah operator dari daerah yang pernah menghadapi dampak El Nino. Dalam jangka panjang, Teguh mendorong pemerintah menyiapkan master plan pengelolaan air baku secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Menurutnya, pengelolaan daerah aliran sungai seperti Cisadane dan Ciliwung membutuhkan perencanaan jangka panjang untuk memastikan ketersediaan air baku. Ia menambahkan, pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menjamin ketersediaan air baku. Karena itu, mitigasi kekeringan perlu dilakukan secara terintegrasi dan tidak hanya ketika fenomena El Nino terjadi. Baca Juga: Pengamat Pajak Proyeksi Setoran PPN Dalam Negeri Shortfall Rp 15 Triliun pada 2026
Pasokan Air Baku Jabodetabek Masih Relatif Aman di Tengah El Nino
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena El Nino yang berlangsung berkepanjangan berpotensi menekan ketersediaan air baku bagi perusahaan air minum, terutama ketika debit sungai dan sumber air mengalami penurunan. Namun, kondisi pasokan air baku di wilayah Jabodetabek saat ini dinilai masih relatif terkendali. Direktur Eksekutif Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) Teguh Subekti mengatakan, hujan yang terjadi di wilayah Bogor dalam beberapa hari terakhir menjadi faktor yang membantu menjaga debit sejumlah sungai yang menjadi sumber air baku di Jabodetabek. “Untuk wilayah Jakarta, sekitar 92% pasokan air baku berasal dari Jatiluhur melalui Kalimalang. Sementara sekitar 8% lainnya berasal dari sejumlah sumber seperti Sungai Cisadane, Pesanggrahan dan Ciliwung,” ujar Teguh kepada KONTAN, Senin (21/9). Baca Juga: Pengelolaan Ekosistem Papua Terkendala Kondisi Alam dan Ketersediaan Data Teguh mengatakan, secara umum kondisi pasokan air baku di Jabodetabek masih relatif terkendali. Meski demikian, terdapat sejumlah wilayah yang mulai mengalami penurunan debit air. “Kalau saya lihat, relatif terkendali dan belum signifikan di Jabodetabek. Untuk Tangerang, Cisadane relatif aman. Tetapi setelah Bendung 10, termasuk Karang Tengah dan sekitarnya, debitnya memang sudah berkurang sehingga pasokannya bisa lebih rendah,” katanya. Menurut Teguh, hujan yang kembali terjadi di Bogor berpotensi meningkatkan debit Sungai Cisadane, Ciliwung dan Pesanggrahan sehingga dapat membantu menjaga ketersediaan air baku di sejumlah wilayah. Ia mencontohkan, dampak El Nino terhadap pelayanan air minum pernah terjadi di sejumlah daerah. Di Kota Makassar pada 2023, sekitar 700 liter per detik pasokan sempat terganggu akibat keterbatasan debit sungai yang kemudian memicu intrusi air laut sehingga proses pengolahan air tidak dapat beroperasi secara normal. Karena risiko kekeringan dapat berulang, Teguh menilai perusahaan air minum perlu menyiapkan langkah mitigasi sejak awal. PERPAMSI sebelumnya juga telah menggelar webinar mengenai mitigasi risiko kekeringan dengan menghadirkan sejumlah operator dari daerah yang pernah menghadapi dampak El Nino. Dalam jangka panjang, Teguh mendorong pemerintah menyiapkan master plan pengelolaan air baku secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Menurutnya, pengelolaan daerah aliran sungai seperti Cisadane dan Ciliwung membutuhkan perencanaan jangka panjang untuk memastikan ketersediaan air baku. Ia menambahkan, pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menjamin ketersediaan air baku. Karena itu, mitigasi kekeringan perlu dilakukan secara terintegrasi dan tidak hanya ketika fenomena El Nino terjadi. Baca Juga: Pengamat Pajak Proyeksi Setoran PPN Dalam Negeri Shortfall Rp 15 Triliun pada 2026