KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemulihan pasokan bahan bakar pesawat (avtur) global diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan jika Iran membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini disebabkan gangguan pada kapasitas kilang minyak di Timur Tengah akibat konflik yang sedang berlangsung. Direktur Jenderal International Air Transport Association, Willie Walsh, menyatakan bahwa meskipun harga minyak mentah berpotensi turun, harga avtur kemungkinan tetap tinggi dalam jangka pendek karena keterbatasan pasokan hasil olahan. “Jika selat dibuka kembali dan tetap terbuka, masih dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan pasokan ke level normal akibat gangguan pada kapasitas kilang di Timur Tengah,” ujar Walsh dalam konferensi pers di Singapura, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Israel Dukung Jeda Serangan AS ke Iran, Gencatan Senjata Tak Berlaku di Lebanon Avtur Jadi Beban Utama Maskapai
Bahan bakar merupakan komponen biaya terbesar kedua bagi maskapai setelah tenaga kerja, dengan porsi sekitar 27% dari total biaya operasional. Gangguan distribusi akibat penutupan Selat Hormuz telah menekan pasokan avtur global, memaksa maskapai melakukan berbagai penyesuaian operasional. Sejumlah maskapai terpaksa mengurangi frekuensi penerbangan, membawa cadangan bahan bakar tambahan dari bandara asal, hingga menambah titik pengisian ulang (refuelling) di rute penerbangan.
Harga Avtur Melonjak Tajam
Harga avtur biasanya bergerak sejalan dengan harga minyak mentah. Namun sejak konflik Iran, harga avtur melonjak lebih dari dua kali lipat—jauh melampaui kenaikan harga minyak mentah yang sebelumnya naik sekitar 50%. Meski harga minyak sempat turun di bawah US$100 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dua pekan dengan Iran, tekanan pada harga avtur masih bertahan.
Saham Maskapai Menguat
Kabar potensi dibukanya kembali Selat Hormuz dan jalur pelayaran yang aman mendorong reli saham maskapai global, terutama di Asia dan Eropa. Saham Qantas Airways melonjak lebih dari 9%, Air New Zealand naik lebih dari 4%, serta Cathay Pacific menguat 5%. Maskapai India, IndiGo, bahkan melonjak hingga 10%. Di Eropa, saham Wizz Air dan Air France-KLM naik sekitar 14%, sementara Lufthansa, Finnair, International Airlines Group, dan Ryanair menguat antara 8% hingga 10%.
Baca Juga: AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata Dua Pekan, Hormuz Segera Dibuka? Pemulihan Kapasitas Butuh Waktu
Walsh menilai gangguan kapasitas maskapai di kawasan Teluk—yang sebelumnya menyumbang sekitar 14,6% kapasitas penerbangan internasional—bersifat sementara. Namun, maskapai di luar kawasan tidak dapat sepenuhnya menggantikan kapasitas tersebut.
Ia memperkirakan pemulihan akan berlangsung bertahap, dengan data April dan Mei menjadi indikator penting untuk mengukur dampak gangguan.
Harapan dari Kilang Global
Walsh menambahkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz akan berdampak positif tidak hanya bagi aliran minyak mentah, tetapi juga produk olahan seperti avtur. Namun, kilang di luar Timur Tengah membutuhkan waktu untuk meningkatkan produksi. Negara seperti India dan Nigeria dinilai memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi bahan bakar olahan dalam jangka pendek. Selain itu, China dan South Korea diharapkan dapat kembali mengekspor produk olahan energi setelah pasokan minyak mentah stabil. Dengan margin kilang (crack spread) yang tinggi, terdapat insentif bagi industri pengolahan untuk meningkatkan produksi avtur. Meski demikian, proses penyesuaian ini diperkirakan memerlukan waktu sebelum pasokan kembali normal di pasar global.