Pasokan Batubara dari China dan Indonesia Tertekan, Harga Terancam Tembus Level Baru



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pasar batubara global tengah menghadapi tekanan pasokan yang semakin ketat akibat kombinasi gangguan produksi di China, ketidakpastian kebijakan ekspor Indonesia, hingga meningkatnya permintaan energi di Asia. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga di tengah pasar energi yang masih rapuh akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Gangguan terbesar datang dari China, setelah kecelakaan tambang mematikan di provinsi Shanxi, wilayah penghasil batu bara terbesar di negara tersebut memicu pengetatan inspeksi keselamatan secara besar-besaran. Langkah ini membuat pasokan domestik menyempit di tengah meningkatnya kebutuhan musiman.

Di saat bersamaan, kebijakan energi di Indonesia juga menjadi faktor ketidakpastian baru di pasar. Rencana pemerintah untuk mengonsolidasikan ekspor batu bara melalui perusahaan negara baru, Danantara, disebut pelaku pasar menambah kekhawatiran soal kelancaran ekspor dari salah satu eksportir terbesar dunia.


Baca Juga: Demo Mahasiswa Meluas, Apindo Waspadai Dampak ke Bisnis Jasa dan Ritel

Tekanan pasokan ini terjadi ketika pasar energi global masih terguncang dampak konflik Amerika Serikat–Iran yang sempat mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima minyak dan LNG dunia itu sempat terganggu, mendorong peralihan permintaan ke batu bara berkualitas tinggi dari Jepang dan Korea Selatan. Akibatnya, harga acuan batu bara Newcastle sempat mendekati level tertinggi dua tahun di atas US$ 150 per ton.

Namun pola permintaan global tidak merata. Permintaan batu bara kualitas lebih rendah yang umumnya berasal dari Indonesia justru melemah karena China dan India masih mengandalkan stok dan peningkatan energi terbarukan untuk menekan konsumsi impor. Situasi ini membuat tekanan lebih besar justru datang dari sisi pasokan, bukan permintaan.

Di China, impor batu bara diperkirakan naik 27,6% pada Juni dibanding tahun lalu menjadi 27,8 juta ton, seiring meningkatnya kebutuhan listrik musiman dan menyempitnya pasokan domestik. Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi inspeksi ketat tambang dan gangguan produksi pasca kecelakaan di Shanxi.

Secara lebih luas, analis memperkirakan ekspor batu bara Indonesia bisa turun sekitar 11% tahun ini menjadi 446 juta ton, seiring penurunan produksi dan ketidakpastian kebijakan. Dalam empat bulan pertama tahun ini saja, produksi batu bara Indonesia tercatat turun 7% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Filipina justru meningkatkan konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik di tengah cuaca panas dan ekspansi kapasitas pembangkit. Thailand juga diperkirakan meningkatkan impor akibat keterbatasan pasokan gas.

Analis dari Rystad Energy memperkirakan dampak konflik di Timur Tengah saja dapat menambah konsumsi batu bara Asia-Pasifik hingga 70 juta ton pada 2026. Sementara itu, pasokan global diperkirakan justru turun 5,7% menjadi 985 juta ton, mempersempit ruang cadangan di pasar.

Baca Juga: Total Bangun (TOTL) Akui Pelemahan Rupiah Mulai Mengerek Biaya Material Konstruksi

Kondisi tersebut diperburuk oleh faktor iklim. Potensi El Nino diperkirakan dapat menurunkan produksi listrik tenaga air di China, yang biasanya akan digantikan oleh pembangkit berbasis batu bara. Di saat yang sama, produsen besar lain seperti Rusia menghadapi tekanan biaya dan pelemahan produksi, sementara Australia dan Afrika Selatan juga belum mampu menutup kekurangan pasokan secara stabil.

Dengan kombinasi gangguan produksi, perubahan kebijakan ekspor, dan meningkatnya permintaan musiman di Asia, pasar batu bara global kini berada dalam kondisi rentan terhadap lonjakan harga dalam jangka pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News