Pasokan Batubara Seret, SIG Kehilangan Potensi Produksi Semen 1,7 Juta Ton



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri semen nasional menghadapi tekanan akibat kelebihan kapasitas produksi dan kendala pasokan energi.

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mengungkapkan, sejumlah pabrik semen di berbagai wilayah bahkan mengalami belasan kali penghentian operasional kiln sepanjang tahun ini akibat keterlambatan dan kelangkaan pasokan batubara.

Direktur Human Capital SIG Hadi Setiadi memaparkan, kapasitas produksi industri semen nasional saat ini mencapai sekitar 120 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut berasal dari produsen semen milik negara maupun swasta.


Baca Juga: Pasar Mobil Listrik Mulai Dilirik Konsumen Muda, Ini Alasannya

Sementara itu, permintaan semen di pasar domestik hanya berkisar 62 juta ton per tahun. Artinya, pasar dalam negeri baru menyerap sekitar separuh dari total kapasitas produksi terpasang.

Kondisi kelebihan pasokan tersebut semakin menekan industri semen. Di tengah persaingan ketat dan margin keuntungan yang tipis, produsen juga menghadapi kenaikan biaya operasional serta tantangan memperoleh pasokan energi.

"Di saat kami bergulat dengan margin yang tipis, cost-nya terus naik dan tantangan mendapatkan energi juga semakin tinggi. Tahun ini saja, pabrik kami di berbagai wilayah sudah belasan kali mati karena pasokan batubara datang terlambat atau memang suplai dari miner (penambang) tidak ada," kata Hadi dalam acara Minerba Convex, Selasa (3/11/2026).

Hadi menjelaskan, industri semen nasional membutuhkan pasokan batubara sekitar 15 juta ton per tahun. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan sektor kelistrikan di bawah PLN yang mencapai sekitar 40 juta ton.

Namun, produsen semen menghadapi tantangan dalam memperoleh pasokan karena harus bersaing dengan pasar ekspor maupun kebutuhan pembangkit listrik.

Baca Juga: Minat Beli Mobil Listrik Meningkat, BYD, Hyundai, dan Wuling Masuk Radar Konsumen

Hadi mencontohkan, harga batubara dengan kalori 4.200 GAR dalam skema Domestic Market Obligation (DMO) untuk industri tertentu berada di kisaran US$ 47 per ton. Sementara itu, harga pasar ekspor atau komersial dapat menembus lebih dari US$ 78 per ton.

Selisih harga tersebut membuat sebagian penambang lebih memilih memasok pasar ekspor atau memenuhi kebutuhan PLN dibandingkan industri semen yang menawarkan harga lebih rendah.

Akibatnya, pemenuhan kewajiban pasokan batubara untuk industri semen dinilai belum berjalan optimal. Hadi menyebut, setelah memenuhi kebutuhan PLN, sebagian penambang kerap mengabaikan pasokan untuk produsen semen karena perbedaan harga yang cukup besar.

"Begitu penambang sudah memenuhi DMO ke PLN, sisanya ke semen sering kali diabaikan karena selisih harga atau spread yang cukup jauh. Ngapain bela-belain suplai ke semen kalau harganya beda jauh? Akibat kendala ini, ada sekitar 1,7 juta ton potensi produksi semen yang akhirnya hilang tahun ini," kata Hadi.

Baca Juga: Memperluas Pasar, Perusahaan Elektronik Memanfaatkan Para Kreator

Menurut Hadi, industri semen memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Selain memasok kebutuhan proyek infrastruktur, industri ini juga menopang pembangunan perumahan dan berbagai program pemerintah, termasuk pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

Karena itu, ia mendorong sinkronisasi kebijakan tata kelola batubara agar kebutuhan energi industri semen dapat terpenuhi secara lebih optimal. Kepastian pasokan dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan operasional pabrik dan mendukung pemenuhan kebutuhan semen dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News