Pasokan Beras Surplus, Pemerintah Bidik Kenaikan Kesejahteraan Petani dan Nelayan



KONTAN.CO.ID - TANGERANG. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut surplus beras sebesar 4,2 juta ton pada 2025 sejalan dengan peningkatan nilai tukar petani (NTP) dari 116 pada 2024 menjadi 131.

Capaian ini menjadi salah satu indikator perbaikan kinerja sektor pangan nasional. 

Zulkifli mengatakan, pemerintah berhasil membalikkan kondisi dari impor beras sebesar 4,5 juta ton pada 2024 menjadi surplus pada tahun berikutnya. Selain beras, peningkatan produksi jagung juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi domestik.


“2024 kita impor 4,5 juta ton, tapi tahun 2025 kita surplus 4,2 juta,” ujar Zulkifli dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Tangerang, Rabu (14/10/2026).

Baca Juga: Hasil Riset Menyebut Kewajiban Halal Berisiko Menekan Daya Beli dan UMKM

Menurutnya, capaian tersebut ditopang tiga kebijakan utama, yakni pengaturan harga, pengadaan pangan pokok, dan pembangunan irigasi.

Peningkatan produksi diharapkan tidak hanya memperkuat pasokan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani.

Zulkifli menyebut NTP meningkat dari 116 pada 2024 menjadi 131 saat ini. Ia menilai kenaikan tersebut mencerminkan membaiknya posisi ekonomi petani, meski angka indeks itu tidak dapat diartikan secara langsung sebagai persentase keuntungan.

Di sisi lain, pemerintah masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan. Zulkifli menyebut nilai tukar nelayan (NTN) saat ini berada di level 103. Pemerintah menargetkan indikator tersebut meningkat menjadi 120 pada 2026–2027.

“Artinya nelayan kita lemah, maka laut kita yang luas dikuasai oleh nelayan yang kuat, yang datang dari luar negeri,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah akan berupaya menyelesaikan persoalan tersebut pada 2026 dan 2027.

Perbaikan kesejahteraan nelayan dinilai penting agar potensi sumber daya laut Indonesia dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dalam negeri.

Baca Juga: Ombudsman Soroti Antrean BBM di 11 Provinsi, Desak Evaluasi Distribusi

Selain memperkuat produksi dan kesejahteraan pelaku sektor pangan, pemerintah juga berupaya memperluas pasar ekspor Indonesia.

Zulkifli menilai negara-negara di Asia Selatan, seperti Bangladesh, Pakistan, dan India, memiliki potensi perdagangan yang besar.

Pasar Afrika juga dinilai menjanjikan, terutama untuk produk Indonesia yang memiliki daya saing harga.

Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, Zulkifli meminta para duta besar Indonesia aktif mendatangkan calon pembeli internasional ke TEI 2026.

Ia berharap setiap perwakilan Indonesia dapat membawa sekitar 20–30 calon klien untuk membuka peluang transaksi bagi pelaku usaha nasional. “Jadi harus bawa klien,” ujarnya.

Zulkifli menambahkan, TEI yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun menjadi salah satu ajang perdagangan penting bagi Indonesia.

Baca Juga: Pemerintah Andalkan Ekonomi Syariah Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi 6% pada 2027

Pemerintah berharap pameran tersebut dapat mempertemukan pelaku usaha dalam negeri dengan pembeli internasional sekaligus memperluas jangkauan pasar produk nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News