Pasokan berkurang, harga lada kian pedas



JAKARTA. Harga lada terus merangkak naik sejak awal bulan ini. Berdasarkan data Bloomberg Selasa (29/3), harga lada di National Commodity and Derivative Exchange (NCDEX) India saat ini sebesar INR 23.685 per kuintal. Padahal, di awal bulan ini harga lada masih sekitar INR 22.611 per kuintal.

Direktur Pemasaran Internasional Kementerian Pertanian Mesah Siregar mengatakan, kenaikan harga lada ini dipicu pasokan lada dunia yang berkurang. International Pepper Community (IPC) memperkirakan, produksi lada dari negara anggotanya, seperti Brasil, India, Malaysia, Sri Lanka, Vietnam dan Indonesia akan menurun.

IPC memperkirakan, produksi lada dari enam negara itu hanya mencapai 262.802 ton tahun ini. Jumlah ini lebih rendah ketimbang produksi tahun 2010 yang sebesar 271.230 ton.


Khusus Indonesia, IPC memperkirakan produksi lada tahun ini hanya 37.000 ton. Jumlah ini jauh lebih rendah dibanding produksi lada tahun lalu yang sebesar 52.000 ton.

Selain turunnya pasokan, kenaikan harga lada juga didorong tingginya permintaan lada dunia. "Peningkatan permintaan lada terjadi terutama dari negara-negara Eropa," ujar Mesah kepada KONTAN, Selasa (29/3). Ia menjelaskan, cuaca basah dan cenderung dingin membuat produksi lada menurun. Tapi di sisi lain, "Akibat cuaca dingin yang berkepanjangan, permintaan lada dari negara yang memiliki musim dingin seperti Eropa meningkat," kata Mesah.

Ketua IPC Gusmardi Bustami membenarkan, kebanyakan permintaan lada datang dari negara-negara yang memiliki musim dingin. "Banyak permintaan dari Eropa, China dan Amerika," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (29/3).

Menurutnya, dalam lima tahun terakhir ekspor lada dari negara-negara anggota IPC rata-rata mencapai 270.000 ton per tahun. Sedangkan rata-rata produksinya sekitar 330.000 ton per tahun. "Sebagian besar lada dari negara anggota memang diekspor," jelasnya.

Mesah memperkirakan, tren harga lada masih akan terus meningkat, setidaknya hingga musim dingin berakhir tahun ini berakhir. "Harga masih akan meningkat selama permintaan terus naik," ujarnya. Sebaliknya, kata dia, produksi juga belum akan kembali normal jika curah hujan masih tinggi.

Azwar A.B., Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Kementerian Pertanian menjelaskan, iklim basah membuat tanaman lada sulit berproduksi. Cuaca seperti ini memicu serangan hama dan penyakit. Alhasil, tanaman lada gagal berbunga, sementara buah lada juga membusuk terserang jamur.

Di Indonesia naik tinggi

Di Indonesia, harga lada juga mencatat kenaikan cukup tinggi. Berdasarkan data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), harga lada hitam di Lampung saat ini mencapai Rp 35.827 per kilogram (kg). Sedangkan harga lada putih di Pangkal Pinang sudah mencapai Rp 62.534 per kg.

Berdasarkan laporan analisis komoditas di Bappebti, harga lada putih di Bengkulu juga mengalami kenaikan dari Rp 70.000 per kg menjadi Rp 73.000 per kg. Sementara harga lada hitam pada tingkat pedagang pengumpul di sentra produksi Kabupaten Kepahiang, Bengkulu naik menjadi Rp 34.000 per kg, dari sebelumnya Rp 30.000 per kg.

Harga lada hitam di Bengkulu ini melonjak karena tingginya permintaan dari para pedagang lada di Lampung dan Sumatra Barat. Di sisi lain, pasokan lada dari petani tersendat akibat tingginya curah hujan. Tingginya curah hujan juga mengganggu pengeringan dan masa panen.

Lada hitam di Bengkulu dihasilkan beberapa sentra produksi, antara lain dari Kabupaten Kepahiang, Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Kaur.

Kementerian Pertanian sebelumnya memperkirakan, produksi lada tahun ini hanya mencapai 52.000 ton, atau sama dengan produksi tahun lalu.Berdasarkan data Kementerian Pertanian, hingga tahun 2009 lalu ekspor lada Indonesia mencapai 50.642 ton atau senilai US$ 140,313 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini