Pasokan Biji Kakao Terbatas, Askindo Dukung Pemerintah Revitalisasi Tanaman Kakao



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) mendukung upaya pemerintah menggalakkan upaya revitalisasi tanaman kakao, mengingat bahan baku industri di dalam negeri yang masih terbatas.

Ketua Umum DPP Askindo, Jeffrey Haribowo menyebut, tantangan utama dari pengembangan produk hilir biji kakao baik fermentasi maupun non-fermentasi ialah ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan kakao.

"Dari segi pasokan biji kakao dalam negeri, Indonesia mengalami tren penurunan produksi biji kakao sejak tahun 2011-2012. Bahkan, Organisasi Kakao Internasional/International Cocoa Organization (ICCO) menyampaikan produksi Indonesia hanya sekitar 160.000 ton di tahun 2023," ujarnya kepada Kontan, Rabu (25/3/2026).


Baca Juga: Kinerja Pelabuhan Melambat, Biaya Logistik Terancam Naik Signifikan

Oleh karena itu, Jeffrey melanjutkan, Askindo mendukung upaya peningkatan kualitas kakao Indonesia, mulai dari kebun hingga pada penguatan industri. Upaya pemerintah dalam menggalakkan upaya revitalisasi tanaman kakao juga dinilai sebagai langkah yang baik.

Lebih lanjut Jeffrey bilang, lebih dari 99% luasan tanam dikelola oleh petani mandiri atau smallholder farmer. 

"Pemerintah juga sudah merencanakan program peremajaan yang akan didanai oleh APBN dan juga Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) seluas 240.000 hektare hingga 2027," jelas Jeffrey.

Salah satu sinyal positif lainnya, menurut dia, adalah proyeksi ICCO yang memperkirakan produksi kakao Indonesia bisa mencapai 200.000 ton pada 2024/2025, atau meningkat sekitar 40.000 ton dibandingkan 2023. 

Jeffrey menegaskan, kontribusi dan kolaborasi semua pihak penting untuk mendukung upaya revitalisasi perkebunan kakao, yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan produksi kakao nasional. 

Baca Juga: Pengusaha Air Minum Sebut Tren Penjualan AMDK Alami Penurunan Pasca Lebaran

"Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita terus meningkatkan ketersediaan bahan baku dalam negeri, dan juga meningkatkan daya saing produk-produk kakao Indonesia di pasar ekspor," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News