Pasokan Ekspor LNG Diklaim Aman, DEN Ingatkan Keseimbangan Pasokan Domestik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim pasokan kontrak ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) tahun ini berada dalam kondisi aman. Kepastian pasokan pasar luar negeri dengan pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri juga dipastikan aman.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi menjelaskan, produksi LNG Indonesia bertumpu pada fasilitas LNG Tangguh, Bontang, dan Donggi Senoro. 

"Berdasarkan data Ditjen Migas, produksi gas bumi nasional hingga September 2026 mencapai sekitar 6.543 MMSCFD. Angka tersebut mencakup produksi gas nasional, bukan seluruhnya LNG, karena sebagian besar gas digunakan langsung melalui jaringan pipa," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (30/10/2026).


Kholid mengungkapkan, pemanfaatan gas nasional saat ini terus bergeser untuk memprioritaskan pasar dalam negeri. Dia bilang, porsi pemanfaatan gas bumi nasional tercatat telah mencapai 75% untuk domestik dan 25% sisanya dialokasikan untuk ekspor.

Baca Juga: Proyek LNG Abadi Masela Dimulai, Komisi XII DPR Minta Diselesaikan Tepat Waktu

Meskipun alokasi domestik membesar, Kholid menekankan pentingnya menjaga komitmen terhadap pembeli LNG dari luar negeri. 

"Seiring pengarusutamaan gas dometik, Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan domestik dan kepastian kontrak ekspor," ungkapnya.

Dari sisi penyerapan, Kholid menuturkan, sektor ketenagalistrikan melalui pembangkit PLN menjadi konsumen terbesar pasokan LNG di pasar domestik. Selain PLN, LNG juga dimanfaatkan oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) guna memenuhi pasokan industri ketika penyaluran gas pipa mengalami keterbatasan.

Sementara itu, pasar ekspor LNG Indonesia masih mendominasi pengiriman ke sejumlah negara mitra utama di kawasan Asia. 

"Di pasar ekspor, tujuan utama LNG Indonesia mencakup China, Jepang, dan Korea Selatan. Berdasarkan data perdagangan Januari–Agustus 2026, China menjadi tujuan ekspor LNG terbesar Indonesia," tuturnya.

Terkait prospek produksi tahun 2027, Kholid menilai kinerja akan sangat bergantung pada keandalan lapangan gas serta fasilitas pencairan. Kenaikan permintaan domestik untuk industri dan listrik perlu diantisipasi agar tidak mengganggu kewajiban kontrak jangka panjang.

Guna menjaga kelancaran pasokan, Kholid mengingatkan pemerintah agar cermat dalam menyusun perencanaan pasokan energi nasional secara komprehensif. 

"Pemerintah harus memastikan kebutuhan domestik terpenuhi tanpa mengorbankan kepastian kontrak dan kredibilitas Indonesia sebagai pemasok LNG internasional," pungkasnya.

Baca Juga: Proyek LNG Abadi Masela 60% Buat Domestik 40% Ekspor, Begini Rinciannya

Berdasarkan data paparan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR pada 28 Agustus 2026 lalu tercatat bahwa:

Ekspor LNG hingga Juni 2026 mencapai 998,77 BBTUD adapun kontrak kontrak yang ditetapkan juga tertulis sebesar 998,77 BBTUD. Sementara itu, pasokan LNG domestik tercatat mencapai 875,81 BBTUD dan juga telah memenuhi seluruh kontrak yang ditetapkan.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, memastikan seluruh kontrak ekspor LNG sepanjang 2026 dapat dipenuhi sesuai kesepakatan.

Bahlil menegaskan, kontrak ekspor gas tahun ini tidak lagi menghadapi kendala pasokan. Pemerintah juga mulai menyiapkan langkah untuk memastikan kelancaran pengiriman gas kepada mitra luar negeri pada 2027. 

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan gas untuk pasar ekspor telah dikoordinasikan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kewajiban kepada pembeli internasional dan kebutuhan energi di dalam negeri. 

"Kontrak kita tentang gas tahun ini clear ya, LNG clear, yang kontrak kita untuk ekspor," ujarnya dalam acara FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi LNG Indonesia pada 2025 mencapai 17,44 juta metrik ton (MT). Angka tersebut meningkat tipis dibandingkan dengan produksi pada 2024 yang tercatat sebesar 17,34 juta MT.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total ekspor gas alam Indonesia sepanjang 2025 mencapai 14,04 juta ton. Realisasi tersebut turun dibandingkan dengan ekspor pada 2024 yang mencapai 15,49 juta ton. 

Dari sisi nilai, ekspor gas alam Indonesia pada 2025 tercatat sebesar US$ 7,19 miliar. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 8,9 miliar.

Baca Juga: Prabowo Minta Putra Daerah dan Pengusaha Lokal Dilibatkan dalam Proyek LNG Masela

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: