Pasokan Energi Dunia Terancam: Selat Hormuz Ditutup Iran, Harga Gas Melonjak



KONTAN.CO.ID - TEHERAN. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang rantai pasok energi global. Sejumlah pemilik kapal tanker, perusahaan minyak raksasa, hingga rumah dagang komoditas menghentikan sementara pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.

Situasi memanas setelah Teheran menyatakan menutup jalur pelayaran di selat strategis tersebut. Dampaknya, arus kapal energi global mulai tersendat.

Mengutip Bloomberg (1/3), sumber perdagangan menyebut sejumlah kapal memilih menahan posisi di perairan sekitar Teluk. “Kapal-kapal kami akan tetap berlabuh selama beberapa hari,” ujar seorang eksekutif senior di perusahaan perdagangan energi global.


Citra satelit pelacak kapal menunjukkan antrean tanker di dekat pelabuhan besar seperti Fujairah, Uni Emirat Arab. Beberapa kapal juga dilaporkan menerima transmisi radio dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz.

Namun Angkatan Laut Inggris menilai pernyataan tersebut tidak mengikat secara hukum dan meminta kapal tetap melintas dengan kewaspadaan tinggi. Meski lalu lintas belum sepenuhnya berhenti, perusahaan pialang kapal Poten & Partners mencatat gangguan meningkat cepat dan berpotensi meluas.

Asosiasi kapal tanker INTERTANKO bahkan menyebut Angkatan Laut AS memperingatkan risiko keamanan di seluruh kawasan Teluk, Teluk Oman, Laut Arab bagian utara, hingga Selat Hormuz, karena keselamatan pelayaran tak bisa dijamin.

Baca Juga: Krisis Minyak di Depan Mata? Ini Skenario Terburuk Konflik AS-Iran Menurut Analis

Dari sisi pasokan, risiko yang dipertaruhkan tidak kecil. Sekitar 20% minyak global melewati Selat Hormuz, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran. Jalur ini juga menjadi arteri utama LNG Qatar, salah satu pemasok terbesar dunia.

Konsultan energi Kpler mencatat sedikitnya 14 kapal tanker LNG melambat, berbalik arah, atau berhenti di sekitar selat. Jika eskalasi berlanjut, gangguan terhadap ekspor LNG Qatar berpotensi menekan pasokan gas global dan memicu lonjakan harga energi.

Sejumlah perusahaan pelayaran besar mulai mengambil langkah antisipatif. Hapag-Lloyd menghentikan sementara seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Sementara Maersk menyatakan terus berkoordinasi dengan mitra keamanan untuk operasional di Laut Merah dan Teluk Aden, meski penerimaan kargo di Timur Tengah masih dibuka. CMA CGM juga menginstruksikan kapal yang berada di atau menuju kawasan Teluk untuk mencari tempat berlindung.

Pasar kini menanti respons lanjutan dari pelaku industri dan negara-negara produsen. Jika penutupan efektif terjadi dalam waktu lama, dampaknya bukan hanya pada harga minyak dan LNG, tetapi juga pada inflasi global dan stabilitas pasar keuangan. Selat Hormuz sekali lagi menjadi titik rawan yang menentukan arah energi dunia.

Baca Juga: AS-Israel Serang Iran, China Desak Gencatan Senjata

TAG: