Pasokan Global Topang Harga Minyak



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Kekhawatiran bahwa penutupan Selat Hormuz akan memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas US$ 200 per barel sejauh ini belum menjadi kenyataan. Meski jalur pelayaran energi paling penting di dunia itu praktis terblokir selama lebih dari tiga bulan, harga minyak masih bertahan di bawah US$ 100 per barel.

Laporan Bloomberg (7/6) menyebut, pasar energi global ternyata mampu menyerap sebagian besar guncangan akibat hilangnya lebih dari 10 juta barel pasokan minyak Timur Tengah per hari. Sejumlah faktor menjadi penyangga utama, mulai dari lonjakan ekspor minyak Amerika Serikat (AS), melemahnya permintaan dari China, hingga masih adanya sebagian pengiriman minyak yang berhasil melewati Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kondisi pasar jauh lebih baik dibandingkan perkiraan banyak pihak saat konflik pecah.


"Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk. Hari ini saya melihat harga minyak US$ 96 per barel, padahal banyak yang memperkirakan bisa mencapai US$ 300 per barel," ujar Trump, Jumat (5/6).

Salah satu faktor yang paling membantu menahan kenaikan harga adalah penurunan tajam impor minyak China. Data Vortexa Ltd. menunjukkan impor minyak China pada Mei turun hampir 40% dibandingkan rata-rata tahun lalu. Penurunan tersebut dinilai mampu mengimbangi sebagian besar kehilangan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Di sisi lain, AS tampil sebagai pemasok pengganti utama di pasar global. Ekspor minyak mentah dan bahan bakar Negeri Paman Sam pada Mei tercatat lebih dari 2 juta barel per hari di atas rata-rata sepanjang tahun lalu.

Pemerintah negara-negara maju juga melakukan pelepasan cadangan minyak strategis secara besar-besaran untuk menjaga keseimbangan pasar. Selain itu, sejumlah negara produsen di kawasan Teluk mengalihkan ekspor melalui jalur alternatif guna mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Acuan: Menguat dalam Sepekan, Harga Brent & WTI Anjlok di Akhir Pekan

Tetap waspada

Meski demikian, pelaku pasar mulai mengkhawatirkan ketahanan penyangga pasokan tersebut. Persediaan minyak global terus menyusut dengan cepat, sementara cadangan darurat di sejumlah negara mulai menipis.

Kepala Tim Investasi Komoditas Pacific Investment Management Co. (Pimco), Greg Sharenow, menilai kondisi saat ini tidak dapat berlangsung dalam jangka panjang.

"Setiap minggu sistem kehilangan sekitar 70 juta hingga 80 juta barel. Kondisi seperti ini tidak bisa berlangsung selamanya," kata Sharenow.

Menurut dia, dalam beberapa bulan ke depan pasar berisiko menghadapi keterbatasan pasokan yang lebih serius apabila tidak ada pemulihan arus minyak dari Timur Tengah.

Di AS sendiri, stok minyak komersial telah turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade. Sementara kilang-kilang minyak meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar domestik menjelang musim panas.

Selain mengandalkan produksi domestik, pemerintahan Trump juga memberikan kelonggaran terhadap sebagian ekspor minyak Rusia yang terkena sanksi. Kebijakan tersebut mendorong peningkatan pembelian minyak Rusia oleh India.

Data menunjukkan impor minyak Rusia ke India pada Mei mencapai rata-rata 1,76 juta barel per hari atau naik 63% dibandingkan Februari.

Sementara itu, banyak analis menilai arah harga minyak selanjutnya akan sangat ditentukan oleh China. Apabila negara tersebut kembali meningkatkan impor ke tingkat sebelum konflik Iran, tekanan kenaikan harga minyak diperkirakan akan semakin besar.

Kepala Strategi Komoditas ING Groep NV, Warren Patterson, mengatakan melemahnya permintaan China telah memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan pasar global.

"Penurunan pembelian minyak oleh China memainkan peran krusial dalam membantu membatasi kenaikan harga minyak dunia," ujarnya.

Di tengah berbagai upaya stabilisasi tersebut, arus pelayaran melalui Selat Hormuz masih jauh dari normal. Jumlah kapal yang melintas turun drastis dibandingkan sebelum konflik. Pelaku pasar pun kini menaruh perhatian besar pada peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran yang dinilai menjadi kunci pemulihan pasokan energi global.

Tanpa adanya penyelesaian konflik, pasar minyak dunia tetap menghadapi risiko lonjakan harga yang sewaktu-waktu dapat kembali muncul seiring menipisnya cadangan pasokan global.

Baca Juga: Cadangan Emas China, 19 Bulan Nonstop Beli Saat Harga Anjlok!

TAG: