KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan pengilangan minyak (refinery) di China menunda proyek ekspansi yang semula dijadwalkan mulai beroperasi tahun ini. Penundaan tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan minyak mentah dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz akibat konflik Iran, menurut sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut. Penundaan proyek dengan total kapasitas sekitar 500.000 barel per hari (bph) ini berpotensi membatasi pertumbuhan permintaan minyak China sekaligus menahan kenaikan permintaan global terhadap minyak mentah. Kondisi tersebut terjadi ketika industri pengolahan minyak di negara importir minyak terbesar dunia itu juga menghadapi tantangan berupa melemahnya konsumsi bahan bakar.
Salah satu proyek yang terdampak adalah kilang milik Huajin Aramco Petrochemical Co (HAPCO), perusahaan patungan antara Saudi Aramco, konglomerasi pertahanan milik negara China Norinco Group, dan Panjin Xincheng Industrial Group. Menurut lima sumber yang mengetahui proyek tersebut, HAPCO menunda pengoperasian kilang berkapasitas 300.000 bph di Kota Panjin, China Timur Laut, menjadi September atau awal Oktober 2026. Sebelumnya, fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada Mei atau Juni tahun ini. Konsultan energi Energy Aspects juga memperkirakan kilang tersebut baru akan beroperasi pada akhir kuartal III-2026 akibat ketidakpastian pasokan bahan baku yang terkait dengan gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Israel Serang Fasilitas Petrokimia Iran, Trump Minta Netanyahu Menahan Diri HAPCO belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Sementara itu, Saudi Aramco menolak memberikan komentar terkait jadwal operasional proyek tersebut. Pada 2023, Saudi Aramco menyatakan akan memasok hingga 210.000 bph minyak mentah ke HAPCO. Selain kilang minyak, proyek tersebut juga mencakup pembangunan pabrik perengkahan etilena (ethylene cracker) berkapasitas 1,65 juta ton per tahun serta fasilitas produksi paraxylene berkapasitas 2 juta ton per tahun.
Kilang PetroChina Juga Tertunda
Secara terpisah, rencana pengoperasian kembali unit pengolahan minyak mentah berkapasitas 200.000 bph di kilang Dalian milik PetroChina juga ditunda tanpa batas waktu yang jelas. Tiga sumber yang mengetahui proyek tersebut menyebutkan bahwa penundaan terjadi setelah perubahan kondisi pasar minyak global. Sebelumnya, Reuters melaporkan pada Januari lalu bahwa perusahaan minyak milik negara China tersebut berencana menghidupkan kembali fasilitas tersebut pada pertengahan tahun untuk memanfaatkan tingginya margin pengolahan minyak mentah Rusia yang dijual dengan diskon. Namun, diskon harga minyak Rusia kini sebagian besar telah menghilang setelah konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan global dan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan pasokan minyak Rusia. PetroChina, yang belum pernah mengonfirmasi secara terbuka rencana pengoperasian kembali unit Dalian tersebut, juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Margin Kilang Tertekan, Permintaan BBM Melemah
Penundaan proyek-proyek tersebut terjadi ketika konflik Iran menekan profitabilitas industri pengolahan minyak di China. Gangguan pasokan minyak Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, sementara perusahaan pengilangan tetap menghadapi pembatasan harga bahan bakar yang ditetapkan pemerintah. Di saat yang sama, pertumbuhan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) turut mengurangi permintaan bahan bakar konvensional. Akibat kombinasi faktor tersebut, tingkat pengolahan minyak di China turun menjadi sekitar 13,3 juta bph pada April 2026, level terendah sejak Agustus 2022 berdasarkan data pemerintah China.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok 1% di Tengah Hari Ini, Terseret Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga AS Volume tersebut setara dengan sekitar 69% dari total kapasitas pengolahan nasional. Berdasarkan estimasi perusahaan kilang milik negara, kapasitas pengolahan minyak China mencapai sekitar 960 juta ton per tahun atau setara 19,2 juta bph.
India dan China Pimpin Penambahan Kapasitas Kilang Asia
Para analis memperkirakan Asia akan menjadi wilayah dengan penambahan kapasitas kilang terbesar pada tahun ini. Di India, perusahaan milik negara Hindustan Petroleum Corp (HPCL) dan Indian Oil Corp (IOC) diperkirakan menambah kapasitas pengolahan sekitar 526.000 bph sepanjang 2026. Proyek kilang Barmer milik HPCL berkapasitas 180.000 bph sempat mengalami keterlambatan beberapa bulan akibat kebakaran. Meski demikian, perusahaan menyatakan fasilitas tersebut akan mulai beroperasi bulan ini dengan kapasitas awal sekitar 60%. Sementara itu, Indian Oil Corp pada Mei lalu menyampaikan bahwa proyek ekspansi kilang di Barauni, Gujarat, dan Panipat akan selesai masing-masing pada Agustus, November, dan Desember 2026.