KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah bergerak turun tipis pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Investor mencermati ketidakpastian akibat kembali pecahnya serangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berisiko mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah. Mengutip
Reuters, harga minyak Brent berjangka turun 43 sen atau 0,45% menjadi US$ 95,20 per barel pada pukul 00.29 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 24 sen atau 0,26% menjadi US$ 90,77 per barel.
Baca Juga: Yield Obligasi Global Naik, IMF Khawatir Beban Utang Negara Berkembang Membengkak Serangan terbaru menjadi pertukaran tembakan paling besar antara AS dan Iran sejak Juli. Konflik antara kedua negara tersebut kini telah memasuki bulan ketujuh. Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent dan WTI bergerak sangat fluktuatif. Kedua kontrak tersebut sempat menguat hingga US$ 2 per barel sebelum berbalik turun sekitar US$ 1 per barel. Level tertinggi Brent dan WTI pada sesi tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak 24 Juli 2026. Analis IG Tony Sycamore mengatakan, harga minyak kembali melemah karena terdapat tanda-tanda sementara bahwa eskalasi terbaru antara AS dan Iran mulai mereda. "Jika jeda tersebut bertahan, dan itu masih menjadi pertanyaan besar, tidak akan lama sebelum pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dengan kapal yang menyamarkan identitas serta melalui transfer antarkapal kembali ke level yang terlihat pada akhir pekan lalu," kata Sycamore dalam catatannya.
Baca Juga: Bangkok Bank Terbitkan Obligasi Dolar AS US$ 750 Juta Data awal perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya empat kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu (2/9). Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 13 kapal. Sementara itu, Iran menambah daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan. Kapal-kapal tersebut dapat dikenai denda, penyitaan, atau penahanan jika mencoba melintasi Selat Hormuz. Trump Klaim Serangan Berat Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Rabu bahwa kampanye militer terbaru AS terhadap Iran tidak akan berlangsung terlalu lama. Trump juga mengatakan pasukan AS telah menargetkan sistem radar dan rudal Iran. "Kami menghancurkan seluruh peralatan baru yang mereka coba bangun di sepanjang Selat Hormuz, sebagian bersifat defensif dan sebagian ofensif. Itu adalah serangan yang sangat berat tadi malam, dan kami siap melakukan serangan lainnya kapan pun kami mau," ujar Trump.
Baca Juga: Uber Luncurkan Robotaxi di London, Gandeng Wayve untuk Teknologi AI Meski demikian, ketidakpastian mengenai keamanan Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar minyak. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dunia. Pemerintah AS mengatakan sekitar 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin (31/8). Menurut AS, volume tersebut merupakan jumlah minyak mentah terbesar yang melewati jalur tersebut sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai. Kondisi tersebut membuat perkembangan konflik AS-Iran dan keamanan Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek.